Suatu Senen Pagi yang Indah

Sampai kantor pukul 05.55 WIB, tidak macet sama sekali. Hanya memakan waktu 55 menit Bekasi-Jakarta. Biasanya jam segitu langsung masuk ruang kantor, bermain dengan senar-senarnya Browny, membaca beberapa lembar bacaan, kalau tidak melanjutkan tidur, hihi… Beberapa hari belakangan, terpaksa tidak bisa melakukan aktivitas rutin di pagi hari itu. Baru pindahan ke gedung baru, jadi belum punya kunci ruangan.

Setelah menghabiskan waktu 10 menit dandan, aku menuruni anak tangga gedung parkir. ‘Biar olah raga’, pikirku. Sekeluarnya dari gedung parkir, angin sepoi-sepoi pagi menghempas di wajahku. ‘Segernya’, pikirku. Berjalan santai ke arah gedung kantorku, belum ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan personil pengelola gedung belum seorangpun tampak. Kuikuti pedestrian ke arah taman utama, beberapa orang terlihat sedang bermain gateball. Aku berjalan mendekat, salah seorang personil tersenyum ke arahku, aku membalas tersenyum sambil melanjutkan jalan santai.

Kuitari taman utama beberapa putaran. Udara segar dan suasana tenang sangat terasa. Sinar mentari pagi terasa sangat lembut. Rerumputan dan pepohonan tampak hijau segar. ‘Indahnya memulai hari dengan kesegaran dan ketenangan seperti ini’, bisikku. Di tengah-tengah hiruk pikuk Jakarta, siapa bilang tidak ada waktu untuk menikmati mentari pagi nan cantik? ‘Besok-besok, jalan santai lagi akh’, bisikku ketagihan. ‘Atau bawa sarapan dan bacaan, trus baringan diatas rumput di bawah pohon? Dikira piknik apah!’

20 menit kemudian, aktivitas semakin ramai, beberapa kendaraan mulai lalu lalang, personil pengelola gedung mulai menyapu rerumputan sambil melirikku sedikit heran. Aku membalas wajah kepo mereka dengan senyuman sambil terus melangkah. Kuitari gedung demi gedung, taman demi taman kira-kira 30 menit. Matahari mulai terik, peluhku tak terbendung, mengalir melalui kening kanan dan kiri. ‘Waduh, bau ketek deh’, bisikku dalam hati. ‘Pengen duduk’, tapi tak satupun kursi taman kutemukan. Baru sadar, meskipun tatanan gedung dan taman cukup elok, ternyata tidak ada kursi taman. ‘Akh, seandainya tak pakai rok’, bisikku sambil memandangi hamparan rumput hijau dengan wajah mupeng.

Pukul 06.50, aku menyudahi jalan santai pagi itu dan berjalan menuju gedung parkir untuk mengambil tas. ‘Ruangan pasti sudah dibuka, pikirku. Entahlah, hati dan wajahku pagi itu tersenyum. Mudah-mudahan hari ini berjalan seindah pagi ini. Amin.

Suatu Senen Pagi yang Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s