Wisata sehari mengitari Danau Toba…

‘Barang-barang udah masuk semua?’ Si mak seperti biasa melakukan pengecekan untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. ‘Udah mak’ si abang menyahut sambil menutup pintu bagasi mobil. Hari itu kami berencana berwisata menyusuri sambil menikmati keindahan Danau Vulkanik Terbesar di Dunia itu (mungkin salah satu yang terindah juga?).

Empat hari sebelumnya kami telah menikmati suguhan alam Muara, sebuah kota kecil di pinggiran Danau Toba. Meskipun jalanan menuju Muara tidak mulus, namun pemandangan alamnya sungguh elok. Perbukitan di satu sisi dan hamparan danau toba di sisi satunya lagi pasti membuat anda berdecak kagum, percaya deh! Tak salah jika orang menyebutnya Muara Nauli.

image

Hari ini, kami akan melakukan perjalanan yang lebih jauh. Destinasi wisata yang akan kami tempuh sudah diputuskan tadi malam. Si abang, yang sudah pernah berkelana mengelilingi Danau Toba dan nyetirnya pun jagoan, banyak memberi masukan. Dimulai dari Balige, ke Parapat, Sidamanik, Simarjarunjung, Tongging, Danau Silalahi Na Bolak, Sumbul, Sidikalang, Tele, Pulau Samosir, menyebrang ke Parapat, trus kembali ke Balige. Menginap di Samosir adalah pilihan terbaik agar tidak terlalu capek. Danau Toba dapat dikelilingi dalam seharian penuh (tidak termasuk Pulau Samosir), dan mengitari Pulau Samosir dibutuhkan setengah hari.

Semalam sebelumnya aku tak henti-hentinya berdoa agar cuaca keesokan harinya mendukung dan jalanan tidak ada yang longsor agar acara wisata kami menyenangkan. Sekitar pukul 7 pagi, kami pun berangkat. Cuaca pagi itu cerah dan hangat, suatu keajaiban dalam kondisi musim hujan seperti sekarang ini. Nampaknya doaku langsung dikabulkan, thank God!

Anro, ponakanku, yang sudah tidak sabar menunggu hari itu, terlihat sangat antusias. Berkali-kali dia melemparkan pandangan ke luar jendela mobil sambil bertanya ini-itu. Jalanan terlihat lengang, hanya beberapa mobil yang melintas. Memulai perjalanan di waktu pagi memang keputusan yang tepat!

Dalam 1,5 jam, kami sudah mencapai Parapat. Pesona Danau Toba di sebelah kiri terlihat cantik. Diterpa sinar mentari pagi, airnya tampak berkilau. Tak ada sehelai kabutpun mengganggu pandangan. Kombinasi danau dan perbukitan terlihat sangat sepadan. Meskipun sudah puluhan kali melewati tempat itu (well, minimal setiap pulang kampung), Parapat tetaplah menjadi salah satu spot terbaik untuk menikmati keelokan Danau Toba. Kami memutuskan untuk tidak berhenti di Parapat, tapi lanjut menuju Sidamanik, lalu Simarjarunjung.

Di pertigaan setelah Parapat, kami belok kiri ke Jalan Pematang Purba-Parapat. Bersyukur buat Google Map dan Waze yang sangat membantu arah perjalanan kami! Jalan Pematang Purba tampaknya tidak sering dilintasi, fisik jalannya sih mulus tapi agak sempit. Medan yang mendaki dan jalanan sempit membutuhkan keahlian dalam menyetir. Si abang tidak terlihat kesulitan sama sekali. Lengannya cekatan dan lihai menggerakkan setir, serta menginjak kompling dan rem secara bergantian.

Tidak lama kami mencapai daerah Sidamanik. Kecantikan Danau Toba di sebelah kiri terlihat sangat memukau. Tak sedetikpun pandanganku kualihkan dari pemandangan danau itu. Pulau Samosir di seberang danau terlihat memanjang sejajar dengan jalan yang kami tempuh. Kami memutuskan untuk berhenti di beberapa spot yang dikhususkan untuk berfoto ria dan menikmati keindahan, kondisi jalanan di atas tebing curam tidak memungkinkan untuk selalu berhenti di setiap titik.

image

Beberapa saat kemudian kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan itu, kami mencapai kawasan Simarjarunjung, perbukitan dan hamparan danau terlihat seperti lukisan. Aku mengabadikan beberapa foto walau aku sadar, sebanyak apapun foto yang aku ambil tidak akan mampu merekam seluruh keindahan itu secara sempurna. Yang penting mata ini telah melihat dan hati ini terkagum atas karya Sang Pencipta.

image

Tidak lama berselang, entahlah sudah berapa lama (aku tak lagi memperdulikan jam, karna terhanyut oleh keelokan setiap wilayah yang kami lalui), kami memasuki Jalan Raya Seribu Dolok. Di kawasan ini, jalanan tidak lagi menyusuri pinggiran danau, tetapi melalui perdesaan Tanah Karo. Sepanjang mata memandang, tidak ada sepetak tanahpun yang tidak ditanami dengan tanaman palawija. Penduduk di kawasan tersebut pastilah petani kebun yang rajin, dan tanahnya juga subur.

Mesipun sudah berjam-jam, excitement dan semangat kami tidak luntur. Si abang meyakinkan kami bahwa view di daerah Tongging akan jauh lebih spektakuler. Dan kami merencanakan untuk makan siang di sana. Waktu sudah menunjukkan tengah hari ketika kami mencapai Tongging. Karena ada 2 lokasi yang akan kami tuju, yaitu Air Terjun Sipiso-Piso dan Desa Tongging, kami memutuskan untuk ke Air Terjun terlebih dahulu, kemudian ke Desa dimana kami akan menghabiskan makan siang disana.

Dari kejauhan, Air Terjun Sipiso-piso sudah terlihat memamerkan keagungannya. Dengan tinggi sekitar 120 m, air terjun ini dinobatkan menjadi air terjun tertinggi di Indonesia. Curamnya tebing-tebing bebatuan yang mengelilingi air terjun dan derasnya airnya membuat pemandangan air terjun ini tampak dramatis.

image

Aku tidak puas dengan hanya memandang dari atas dan kejauhan. Kuturuni ratusan anak tangga menuju lookout untuk mendapatkan spot terbaik. ‘Air terjun yang elok ini mesti kuabadikan!’, aku bertekad. Tanpa kesulitan yang berarti, aku mencapai sebuah pondokan yang merupakan sudut berfoto terbaik. Beberapa saat lamanya kupandangi air terjun itu, mulai dari tebing yang paling tinggi hingga jatuhnya air menghepas bebatuan paling bawah. ‘Sang Pencipta pastilah indah menciptakan keindahan alam sedahsyat ini’, pikirku.

Beberapa orang (termasuk anak-anak kecil) terlihat menuruni ratusan anak tangga lagi untuk mencapai dasar air. ‘Disana pastilah keelokan air terjun itu lebih dahsyat dan dramatis’, bisikku dalam hati. Tapi aku berhasil mengendalikan diri dan mengurungkan niat untuk turun lebih bawah lagi.

Pemandangan dari lookout itu tidak hanya menyuguhkan view air terjun yang megah, tetapi juga hamparan Danau Toba yang memesona. Air terjun dan danau berdiri berhadapan, seolah saling memamerkan keanggunan masing-masing. Seketika aku dapat menyimpulkan bahwa aliran air terjun yang deras, setelah terpecah oleh bebatuan di bawah, akan mengalir melalui sungai yang berhilir di Danau Toba.

image

Sambil duduk-duduk beberapa saat di pondokan lookout, hatiku tak henti-hentinya mengagumi keindahan alam itu. Sang danau tampak kalem elegan sementara mentari menerpa airnya sehingga tampak berkilau. Barisan Perbukitan seibarat pagar yang berselimutkan hutan pinus dan belukar berwarna hijau segar. Suara gemuruh air terjun di seberang menyempurnakan kedramatisan suasana tempat itu.

Kami menghabiskan beberapa saat di lookout itu sebelum akhirnya, dengan berat hati, kami beranjak. Perjalanan harus berlanjut, selain itu perutpun sudah keroncongan. Kami lalu melesat menuruni perbukitan menuju pantai. Perbukitan hijau segar di sebelah kanan seolah tersenyum menyambut kedatangan kami. Air Terjun Sipiso-piso terlihat semakin mengecil sebelum akhirnya tertutup di balik lekuk-lekuk perbukitan.

image

Setelah makan siang di dekat pantai, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Hari sudah lewat tengah hari ketika suasana mulai mendung. Gerimis mulai mengundang dan sinar mentari lambat laun meredup. Kami masih optimis bahwa alam Danau Toba masih akan terus memamerkan keindahannya, sekalipun disertai oleh rintik-rintik hujan.

Perhentian berikutnya adalah kawasan Tao Silalahi Na Bolak. Di kawasan yang dipagari tembok ini terdapat sebuah tugu Silahi Sabungan dan sebuah rumah sopo besar menghadap Danau. Dari Sopo, kita dapat menuruni anak tangga semen menuju pinggiran danau yang berbatu-batu. Tampak beberapa anak bermain air dan beberapa orang dewasa mandi tanpa melepas pakean. Satu hal yang menarik yang tertangkap penglihatanku adalah orang-orang itu mandi tidak dengan sabun, tapi dengan jeruk purut! Entah apa artinya itu, mandi pake jeruk? Mudah-mudahan itu bukan jimat atau semacamnya!

Perjalanan berlajut. Gerimis datang dan pergi sesuka hati seolah mencari perhatian! Padahal kami tidak terlalu mengiraukannya! Jalanan tidak lagi mulus, bahkan di beberapa titik terdapat lobang besar yang membuat kami harus mengurangi kecepatan. ‘Bang awin pastilah lelah’, pikirku, tapi ternyata tidak. Sepanjang jalan kami mendiskusikan banyak hal, mulai dari si mak bercerita tentang masa-masa kanak-kanak kami sampai masalah jodoh. ‘Well, sampai juga ke topik ini!’ Pikirku.

Kami tak lagi menaruh perhatian ke papan penanda daerah, hanya sekali-dua kali aku melemparkan pandangan ke luar jendela mobil untuk membaca nama daerah yang kami lalui. ‘Sihite, trus Sumbul, trus…’, hafalku dalam hati.

Sekitar pukul 5.30 sore, kami mencapai Tele. Kata adikku yang sudah pernah kesana, Tele adalah wilayah puncak perbukitan yang menawarkan keindahan yang membuat pengunjungnya lupa bernafas karena kagum! Tapi itu tidak berhasil kubuktikam karena gerimis semakin deras dan jalanan tertutup kabut tebal. Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Pemandangan di luar tidak terlihat sama sekali dan si abang mulai menyetir hati-hati di jalanan menurun dan basah itu.

Syukurlah semakin turun, kabut semakin hilang. Aku sedikit kecewa karena tidak dapat mengabadikan pemandangan ketika kami di puncak. ‘Kabut!’ Keluhku. Meskipun demikian, pemandangan di daerah yang lebih rendah tidak kalah cantik. Di beberapa titik aku minta berhenti untuk mengambil foto.

image

Langit mulai gelap, lebih gelap dari biasa karena tertutup awan tebal. Meskipun gerimis mulai berhenti, kecantikan tempat itu tetap tidak maksimal. Melewati jembatan sekitar 20 meter dari daerah perbukitan Tele, kami pun mencapai Pulau Samosir. Pemandangan perbukitan yang elok tetap berlanjut menyusuri jalanan di atas tebing. Aku tak henti-hentinya menahan nafas karena kagum akan keindahan tempat itu. Dari kejauhan terlihat jalanan membelah gunung, menyerupai retasan-retasan pohon karet; perbukitan seibarat pohon-pohon karet dan jalanan menjadi retasan-retasannya.

image

Sepanjang mata memandang, terlihat perbukitan hijau yang memancarkan kesegaran. Kami terus menuruni perbukitan demi perbukitan sebelum akhirnya menyusuri perdesaan Pulau Samosir. Lahan-lahan pertanian sawah irigasi mulai terlihat. Di tempat ini kutemukan kombinasi sawah, danau, dan gunung secara sempurna.

image

Hari mulai gelap dan perjalanan terus berlanjut. Harus kuakui bahwa rasa lelah mulai merasuki relung-relung jiwa, halah! Si abang tetap semangat menyetir dan memainkan kompling dan rem secara bergantian. Aku mengusulkan untuk bermalam di Pulau Samosir malam itu dan balik menuju Balige keesokan harinya. Tapi karena keesokan harinya si mak ada urusan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, menyeberang dari Tomok ke Ajibata, Parapat. Sampailah kami di Balige pada tengah malam.

Hari itu indah, walau sedikit exhausted, tapi yang pasti kami sangat excited!🙂

Wisata sehari mengitari Danau Toba…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s