Jakarta-Kualanamu-Balige, Sebuah Cerita Perjalanan

Bangun jam 2.30 pagi, kusiapkan waktuku untuk beberes sambil menunggu si abang yg akan mengantarku ke pool Damri. Alhasil, si abang telat dan baru sampai sekitaran pukul 4. ‘Sori dek, aku ketiduran’, akunya. ‘Aku antar ke bandara deh’ lanjutnya tanpa menunggu komentarku. Kamipun melesat ke bandara dengan kecepatan 120 km/jam.

Bandara Soetta sangat ramai, menyerupai pasar malam. Aku antri dengan sabar untuk check in bagasi, lalu ke ruang tunggu F6. Sambil duduk manis aku membolak balik akun facebook, lalu path. Aku hampir lupa kalo punya akun path!

Landing dengan mulus di KNO setelah melalui adegan turbelensi yg cukup mengkuatirkan, menghadiahkan kelegaan yg luar biasa bagi seluruh penumpang. Cuaca agak mendung berselimut awan tebal pagi ini memaksa pramugari melakukan mengumuman berkali-kali agar para penumpang tidak meninggalkan tempat duduk, apalagi menggunakan lavatory.

Turun dari pesawat, aku kemudian berjalan menyusuri lorong mengikuti tanda ‘pengambilan bagasi’, lalu turut serta dalam kerumunan orang menuju tempat tunggu angkutan umum. Sebaik keluar pintu, aku digiring seorang bapak (yang ternyata seorang calo) menuju kumpulan penumpang dengan tujuan Balige. Kami harus menunggu hingga jumlah penumpang mencapai quota, yaitu 6 orang.

Kulemparkan pandangan mengitari ruang tunggu terbuka itu. Hiruk pikuk para penumpang dan pengumuman staf Angkasa Pura tentang update terakhir aktivitas penerbangan, menjadi backsound di kepalaku yang sedang asik menekan huruf demi huruf di keyboard tab. Aktivitas menulisku harus berhenti beberapa kali karena si mak bolak balik menelepon untuk memastikan bahwa anak gadisnya selamat. Setelah menunggu hampir sejam, kamipun berangkat menggunakan terios hitam.

Perjalanan akan memakan waktu sekitar 5 jam, jadi kupilih duduk di kursi paling depan di samping supir agar bisa lebih relaks. Mobilnya bersih, terlihat terawat. Tulisan ‘dilarang merokok’ yang terpampang di laci depan membuatku lebih tenang. Tidurku atau aktivitas menulisku tidak akan terganggu oleh asap rokok!

Alunan musik dan lagu batak trio memenuhi ruang mobil. Si Bapak supir bermarga Siregar tampaknya sangat menikmatinya. Akupun menyimak kata demi kata lirik beberapa lagu. Salah satu lagu yang menggelitik berjudul (mungkin) ‘Jamila’, bercerita tentang seorang wanita pesolek mengaku masih gadis tapi ternyata udah janda! Haha.

Sejam perjalanan kami berhenti di Bengkel, tempat oleh-oleh Dodol Bengkel yang terkenal itu. Harus duakui kalau kualitas dan rasanya tidak lagi sehebat namanya. Kuputuskan untuk beli dodol rasa durian, pandan, dan vanila sebagai oleh-oleh. Lalu kami melesat.

‘Marga aha na mangalap hamu’ tanya pak supir. ‘Naeng’, sahutku. ‘Oh, ima marga aha’, dia sedikit memaksa. ‘Marga aha bahenonta tulang’, jawabku bercanda. Dia tersenyum, raut wajahnya masih menunjukkan rasa ingin tahu. ‘Nantulang boru aha Tulang?’ Tanyaku mengalihkan. ‘Boru Hutasoit’ sahutnya lantang. Aku mengangguk- angguk.

Perhentian berikutnya ‘Simpang Dua’ Pematang Siantar untuk makan siang. Meskipun asap bakaran mengepul memenuhi seluruh pelosok rumah makan, santap siang kali ini sungguhlah luar biasa. Betapa tidak, menu makanan khas batak yang disajikan amat mengundang selera. Cukup bayar Rp 45.000,- untuk 2 menu pesenan, yaitu ‘manuk na pinadar’ dan ‘saksang tanpa gota’. Sayangnya sayur ‘ingkau rata’ sudah habis, kalo belum aku bakalan pesen 2 porsi!

Setelah kira-kira setengah jam menikmati makan siang, perjalananpun dilanjutkan menyusuri jalanan yang basah oleh hujan rintik-rintik. Kecepatan kami hanya 40 km/jam, mestinya bisa lebih kencang, dan biasanya supir-supir travel trayek Medan-Balige atau Medan-Tarutung menyetir bak kesetanan. Si Bapak supir memang tampak lebih kalem dan terkendali.

Berselang 1,5 jam, kami mencapai Parapat. Hamparan Danau Toba dikelilingi pegunungan bukit barisan yang berkabut sungguh memesona. Meskipun kecantikannya tidak maksimal karena pengaruh cuaca, sang Danau Toba tetaplah memikat. Bapak supir terlihat lebih hati-hati menyusuri jalanan yang berliku-liku.Gerimis masih terus mengundang, bagai perawan yang dilanda kesedihan yang membuatnya tak berhenti menangis, halah!

Dari Parapat kami belok kanan ke arah Ajibata untuk mengantar 2 orang penumpang. Jalanan yang menurun dengan liku-liku tajam membuat bapak supir sedikit kewalahan, kami bahkan 2 kali hampir bersenggolan dengan kendaraan lain. Walau sedikit tidak nyaman karena jalanan yang rusak, kamipun berhasil memasuki jalan besar kembali.

Dari Ajibata, perjalanan dilanjutkan menuju Toba. Lantunan lagu trio batak terus menemani, mengalahkan suara gerimis yang menubruk kaca depan. Aku menghafal setiap papan penanda daerah ‘Lumban Julu, Lumban Lobu, Porsea, Siahaan-Sitatuan, Silimbat, Sigumpar, Laguboti, Tambunan, Tampubolon, dannnnn Balige yay! ‘Tu tano lapang da tulang’ kataku mengingatkan. Dia menggangguk. Si mak ternyata udah menunggu harap-harap cemas di depan rumah, dan dia pun tersenyum sumringah ketika melihat anak gadisnya sudah sampai dengan selamat… I’m home, yes, home…

Jakarta-Kualanamu-Balige, Sebuah Cerita Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s