Terkesan akan Film Interstellar

Kusandarkan punggung dengan santai di sandaran salah satu kursi di ruang tunggu. ‘2 jam lagi’ bisikku dalam hati. Ini kali pertama nganter si blacky ke auto 2000 untuk service berkala. Selintas aku bersyukur buat abang yang selalu bersedia melakukannya untukku. Kali ini dia benar-benar berhalangan dan aku tidak punya pilihan lain.

Setelah memesan indomie rebus, pikiranku kubiarkan melayang ke film interstellar tadi malam. Meskipun tidak memahami sepenuhnya film tersebut dan banyak jargon ilmu fisikanya yang menyebabkan otakku roaming di beberapa adegan percakapan, kuakui sulit untuk tidak menyukai film itu.

Sepulang dari nonton tadi malam, entahlah, hatiku bahagiaaa sekali. Ada suatu energi yang sulit aku jelaskan. Sebenarnya aku ragu untuk menshare kesanku akan film itu, karna mungkin akan terkesan tidak ilmiah, lebay, dan bahkan tidak alkitabiah! Barusan, kusempatkan nanya ‘om google’ untuk memastikan apakah hanya aku yang berpikir hal itu, ternyata tidak. Kuketik kata kunci ‘interstellar and christianity’, ternyata bukan hanya aku yang sok merasa. Dalam Christianiy Today (CT) website, ada juga orang-orang yang merasa bahwa film itu mengingatkan akan beberapa hal yang bersifat alkitabiah. Dan jika anda berfikir hal sama, maka hal-hal yang akan kusampaikan berikut mungkin tidak asing.

Setelah menonton film interstellar, aku diingatkan bahwa:
1. Bumi pada akhirnya akan sampai pada kesudahannya. Aku teringat akan peringatan akhir zaman di alkitab, dimana bumi dan segala isinya akan berakhir.

2. Cooper mencari planet atau tempat lain dan penduduk bumi akan diselamatkan. Aku diingatkan bahwa Yesus sedang mempersiapkan suatu tempat dimana anak-anakNya akan diam bersama-sama dengan Dia.

3. Cooper berjanji akan kembali untuk menyelamatkan penghuni bumi. Murph yakin bahwa ayahnya akan datang. Teringat bahwa Yesus berjanji akan datang kembali untuk membawa anak-anakNya ke tempat yang telah disediakanNya, dan anak-anak Tuhan yakin bahwa Dia akan datang.

4. Ketika janji untuk kembali terasa lama, Tom mulai kehilangan keyakinan akan janji itu, padahal Cooper masih dalam misinya. Betapa mudah bagi manusia untuk kehilangan kepercayaan. Aku membayangkan Yesus berkata ‘aku masih sedang bekerja, Nak, sabar dan yakinlah’.

5. Puluhan tahun di bumi tapi beberapa jam di planet lain. Aku teringat akan waktu manusia berbeda dengan waktu Tuhan. Aku juga teringat akan ayat alkitab yang mengatakan ‘hidup manusia bagai embun pagi hari’, ‘bagai bunga rumput yang pagi berkembang tapi siang layu’, tidak bertahan lama, hanya sebentar.

6. Manusia hanya hidup dalam 3 dimensi ruang, dan dimensi waktu, sedangkan Tuhan bekerja dalam multidimensi, yang sulit terpahami oleh manusia. Sesuatu yang sulit dilakukan dalam dimensi manusia (dalam film itu dicontohkan: memindahkan gunung di bumi) dapat mudah dilakukan pada dimensi Tuhan.

7. Meskipun dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda, Cooper dan Murph dapat berkomunikasi karena mereka saling mengasihi sebagai ayah dan anak. Kasih adalah ikatan yang tidak terbatas oleh ruang, waktu, dan gravitasi. Kasih itu kuat dan luar biasa!

Aku tahu cerita dan janji Allah dalam alkitab adalah indah dan benar adanya. Menganalogikan Interstellar dengan karya Tuhan akan menimbulkan berbagai ketidaksempurnaan. Entahlah, somehow film itu mengingatkanku akan keindahan karya dan janji Allah.

Terkesan akan Film Interstellar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s