Ternate – Sofifi antara Urusan Pekerjaan dan Urusan Petualangan ;p

Balkon Hotel Bella International dengan cuaca mendung dan gerimis begini memang tempat dan momen yang tepat untuk mencurahkan kekagumanku akan Pulau Ternate dan Halmahera (Sofifi). Aku menarik meja santai di samping kursiku untuk menyelonjorkan kaki dan memantapkan posisi wenak. Posisi balkon yang cukup tinggi, menghadap view kota dan laut, menyempurnakan kenikmatan sore ini. Yups, mood dan suasana sangat mendukung untuk memulai cerita.

Kesan Pertama

Excitement dan kekaguman sudah terasa sejak kemaren sore ketika pesawat Garuda Bombardier CRJ 1000 NextGen yang membawa kami transit dari Manado melayang di atas kepulauan Maluku Utara. Terasa pulau-pulau di Provinsi Malut (Maluku Utara) itu pamer kecantikan, dan gumaman penumpang pesawat memuji keindahan itupun tak terelakkan. Pesawat berputar haluan sekali (mungkin sedang antri untuk landing) sebelum akhirnya menyentuh landasan.

Dijemput oleh Pak Is di bandara jam 2 waktu Ternate, langsung ke kantor PDAM Kota Ternate. Kami mengejar untuk bertemu orang PDAM sebelum jam 3 sore, jam dimana kantor-kantor daerah sudah mulai sepi. Chit chat sebentar di PDAM, mereka menyarankan untuk kembali besok atau lusa nya supaya bisa ketemu dengan pejabat yang menguasai materi yang kami minta. Hal itu tidak masalah, kami masih punya 2,5 hari lagi di Ternate-Sofifi.

Atas saran Pak Is, kami menuju Pantai Uang Seribu. Pantai berview laut yang mengelilingi Pulau Maitara dan Pulau Tidore itu tergambar di uang lembaran seribu rupiah, dan merupakan simbol keindahan dan kebersihan pantai-pantai Indonesia. Restoran Florida adalah salah satu spot terbaik menikmati pemandangan Pantai itu. Sayangnya, sore itu gerimis (mengundang!) dan Pulau Maitara tidak begitu terlihat jelas. Sajian mie pangsit (yang ternyata rasanya pedas membahana!), air guraka (air jahe), dan gorengan kasbi (singkong) cukup melengkapi kenikmatan sore itu.

Pantai Uang Seribu (coba bandingkan dengan gambar di uang seribu anda ;p)

Terik mentari pagi keesokan harinya benar-benar menghapus bekas-bekas gerimis kemarin. Langit biru dengan guratan-guratan awan bercorak abstrak menjadi pertanda bahwa hari itu hari baik. Dijemput oleh Pak Roni (pegawai PU Provinsi), kami kemudian menuju pelabuhan penyeberangan ke Sofifi. Sejak 2009, ketika Provinsi Maluku Utara berpisah dari Provinsi Maluku (yang beribukotakan Ambon), Sofifi ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Maluku Utara.

Menyeberang ke Sofifi

Perjalanan Ternate-Sofifi dapat ditempuh dengan 2 pilihan moda transportasi; menggunakan kapal feri atau speedboat. Feri seharga Rp 15 ribu butuh waktu 1,5 jam sementara speedboat seharga Rp 50 ribu hanya 45 menit. Kami memilih speedboat. Meskipun tidak terlalu berombak, kecepatan speedboat menimbulkan goncangan yang bikin mual. Aku dan temanku sesekali bertatapan saling melemparkan mimik ngeri jika speedboat menghantam gelombang, dan pinggul kami sedikit terangkat. Untung bantalan kursi speedboat dan ‘bantalanku’ cukup tebal!

Sesampainya di Pelabuhan Sofifi, anganku melayang ke Pantai Wollongong yang dipenuhi speedboat pesiar. Meskipun kualitas kapal tak sebaik speedboat pesiar, speedboat-speedboat yang berlabuh di pelabuhan ini terlihat berjejer rapi dan teratur. Harus diakui kalau Pelabuhan Sofifi jauh lebih rapi daripada Pelabuhan Ternate. Kami kemudian melanjutkan misi ke kantor PU Provinsi dan Kantor Bappeda, hingga lewat tengah hari.

Alat transportasi penyeberangan Ternate-Sofifi

Rasanya belum rela balik ke Ternate jika belum menikmati view indah Kota Sofifi dari Kantor Gubernur yang berada di puncak perbukitan Sofifi. Kami menyusuri jalan aspal berstatus jalan Provinsi yang mulus dan mantap (ini informasi penting bagi Orang PU Pusat!), hingga mencapai Kantor Gubernur Malut yang megah.

Ya, view dari lantai 4 Kantor Gubernur terlihat sangat mengesankan. Aku berada di wilayah perbukitan, menghadap Laut Maluku nan biru tenang dan hamparan perkotaan Sofifi yang mengikuti lekuk pantai. Sementara aliran Sungai Oba membelah wilayah kota turut menyempurnakan keindahan itu. Hanya setengah jam mengagumi keindahan itu kemudian kami beranjak.

Pemandangan Kota Sofifi dari Kantor Gubernur Maluku Utara

Makan siang di Restoran Platinum. Aku memilih menu tradisional: Cakalang Garo Rica, Babora Asem Pedis (pedis=pedas), cah kangkung, dan Alpukat Garo (garo=keruk). Makanan khas Malut ini rasanya pedas namun enak, betapa tidak, masyarakat negeri rempah-rempah ini pasti sangat lihai meramu masakan dengan bumbu dari rempah-rempah seperti cengkeh, pala, jahe, dan merica. Misi pun berakhir sekitar pukul 5 sore ketika cuaca mulai gerimis (lagi!), dan tidak banyak pilihan kecuali kembali ke Hotel dan istirahat.

Setengah hari menjelajah Kota Ternate

Contact person di PDAM Kota Ternate mengkonfirmasi kalau pertemuan akan diundur ke siang, karena ada rapat internal di pagi hari. Sementara itu, Dinas PU Kota Ternate belum selesai menyiapkan materi yang kami minta. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, kami membuat rencana dadakan.

Setelah menganalisa informasi ‘om google’, sampailah kami ke 3 sasaran lokasi: Kawasan Desa Batu Angus, Danau Tolire, dan Pantai Salamadaha. Pak Is pun menyanggupi rencana itu dan meyakinkan kami bahwa kunjungan ke 3 lokasi itu dapat dilakukan setengah hari. Kami pun melesat meninggalkan Hotel pada pukul 07.30 WIT.

Desa Batu Angus adalah lokasi pertama kami. Tampak bongkahan-bongkahan raksasa batu hitam hasil erupsi Gunung Gamalama berjejer. Meskipun sudah ada sejak tahun 1737, ketika terjadi erupsi terhebat Gunung Gamalama, batu-batu raksasa itu masih terlihat gagah dan tak tergoyahkan. Kawasan itupun menawarkan view Gunung Gamalama yang berdiri tegak dan tampan dengan puncak yang selalu tertutup awan. Di sisi lain tampak hamparan luas Laut Maluku Utara yang biru menyejukkan. Tak lebih setengah jam, kamipun beranjak.

View Laut dari Desa Batu Angus

Lokasi kedua adalah Danau Tolire. Danau ini mengingatkanku akan 3 danau vulkanik di Ende (salah satu kota di Pulau Flores). Danau Tolire berada di salah satu kawasan kaki Gunung Gamalama, airnya berwarna hijau lumut dan cantik, dikelilingi oleh vegetasi berwarna hijau yang serasi dengan warna airnya. Aku melompati pembatas beton untuk menemukan spot terbaik, sekaligus hendak membuktikan mitos bahwa lemparan batu atau ketapel ke arah danau tidak akan pernah menyentuh air danau, karena batu itu meliuk. Dan terbukti, beberapa kali aku melempar batu sekuat tenaga ke arah danau, tak satupun batu lemparanku menyentuh airnya. Well, mungkin galileo-galilei dapat menjelaskan efek fisika itu! Kurang lebih setengah jam kami menikmati kecantikan sang danau yang penuh misteri, kami kemudian melajutkan perjalanan.

Danau Tolire (diambil dari Pesawat ketika lepas landas)

Sampailah kami di Pantai Salamadaha, pantai yang terkenal dengan kejernihan airnya. Pantai yang indah itu tampak tak berpenghuni, pondokan-pondokan dan warung-warung terlihat sepi. Pak Is memandu kami menyusuri tembok pengaman pantai yang ujungnya menuju sebuah teluk mungil yang airnya sebening kaca. Selain berenang, pengunjung dapat menyewa perahu untuk snorkeling di pantai yang agak dalam. Kami menghabiskan 1,5 jam di pantai itu untuk berperahu dan snorkeling. Pantai ini memiliki taman laut dan biota bahari yang mempesona. Karang lautnya cantik dan ikan-ikan warna warni berenang berkelompok di atas karang seolah tak terusik dengan kedatangan kami. Pukul 12.00 kami meninggalkan pantai itu setelah menyantap semangkok indomie rasa ayam bawang.

Pantai Sulamadaha

Jam 13.15 ke Dinas PU Kota Ternate, disambut oleh Pak Sabri yang kemudian memandu kami bertemu Kepala Bidang. Data yang kami butuhkan sudah terletak manis di mejanya. Setelah beberapa saat kami berdiskusi, kamipun pamit. Kami kemudian melesat ke PDAM Kota Ternate. Pak Gani, Kabid TU sudah menunggu kedatangan kami, dan memandu kami ke Kepala Bidang Teknik. Menghabiskan waktu 1,5 jam berdiskusi dengan Pak Novri Gimon, kami pulang membawa informasi yang kami perlukan. ‘Bahan ini cukup untuk Buku Profil Investasi dan Jurnal Pustra’, pikirku.

Perut sudah keroncongan ketika sampai di Restoran De’ Stadion pada pukul 05.15 sore. 5 menit baca menu, pilihan jatuh ke: Kerapu Tahu Tausi, Terong Balado, Nasi Goreng Cakalang Fufu dan Kacang Merah+Alpukat Garo. Itu adalah menu balas dendam karena ga makan siang!

Akhirnya sampai di Hotel pada pukul 19.10, setelah singgah dulu ke toko souvenir di Kawasan Pantai Falajawa.

Berburu sunrise di Pantai Falajawa

Terkesan dengan 2 kali pagi yang cerah, kami pun memutuskan untuk tidak melewatkan sunrise di pagi hari terakhir. Melesat pukul 05.30 WIT, kami menuju Pantai Falajawa. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 06.15, mentari pagi tak kunjung menampakkan diri. Kecurigaan kami akhirnya terbukti setelah terlihat awan tebal menutupi langit bagian timur. Mentari ternyata bersembunyi di balik awan itu. Kami tidak cukup beruntung! Harus merasa puas dengan beberapa foto yang tidak mencerminkan sunrise Ternate yang sesungguhnya.

Sunrise yang Eksotis di Pantai Falajawa

Menikmati semangkok bubur kacang ijo sambil selonjoran di dinding beton menghadap pantai sedikit mengurangi kekecewaanku. Kumpulan ikan-ikan mungil berwarna abu bergaris-garis putih yang berenang di pinggiran pantai seolah minta jatah. Kulemparkan 2 sendok bubur kacang ke kumpulan ikan-ikan dan mereka terlihat agresif berebutan.

Akhir yang sempurna

Pada pukul 14.05 WIT, pesawat garuda bombardier tujuan Jakarta, yang singgah dulu di Makassar, membawa kami pulang. Dua hal yang akan selalu kuingat dari Ternate: kecantikan alam yang tak tertandingi dan makanan pedas bernuansa rempah-rempah yang khas.

Ternate – Sofifi antara Urusan Pekerjaan dan Urusan Petualangan ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s