Bali, every place every occasion

Tidak akan pernah bosan liburan ke pulau ini sejak menginjakkan kaki pertama sekali di bulan September 2009 dan menghabiskan waktu sebulan survey untuk keperluan tesis. Selama sebulan itu, tiap hari ada aja hal baru dan menarik untuk diliat. Mulai dari mengamati orang sembahyang tiap pagi di pura keluarga, nunggu sunset di pantai, liat perayaan-perayaan di pura-pura desa, nonton upacara ngaben, makan chinese food murah meriah di gang-gang Jalan Legian Kuta, tato-taton-an bermotif kupu2, mencari desa penghasil wayang kulit asli Bali sebagai souvenir untuk dikasihin Supervisor tesis, nonton tari kecak di Pura Uluwatu, sampe parasailing-an di tanjung benoa. Semua aktivitas ini terekam detil di album laptop dan beberapa aku ekspose di facebook. Karena dulu itu masih anak mahasiswa yang hidup dari uang beasiswa, transportasi yang aku pilih adalah motor taxi. Pak Made yang menjadi tukang motor taksi menjadi teman dekat berkelana selama sebulan itu. Entahlah, sekarang si bapak masih kerja di motor taksi atau tidak. Aku kehilangan nomor kontak beliau seiring rusaknya hp ku beberapa tahun lalu. Setelah sebulan, data hasil survey terkumpul dan aku balik ke Sydney untuk melanjutkan menyusun tesis.

Tahun-tahun berikut, hampir tiap tahun dinas ke pulau ini. Namun, waktu yang dihabiskan disana durasinya berkisar 2-4 hari saja. Di hari-hari yang singkat itu, menikmati kedetilan suasana dan aktivitas seperti di tahun 2009 lalu sangatlah terbatas karena susah untuk curi-curi waktu jalan di tengah-tengah jadwal dinas yang terkadang dari pagi sampe sore. Seringnya cuma kebagian sunset saja dan terkadang berlagak anak gaul menghabiskan beberapa jam di cafe. Pernah sekali, sehabis training 2 hari, aku ijin sehari dari kantor untuk bernostalgia dengan masa-masa nyusun tesis. Tiketkupun ku-extend setelah bos memberi ijin. Kebetulan waktu itu rasanya aku mau menjauhkan diri sebentar dari tugas-tugas kantor. Jadilah aku nginap selama semalam di daerah Kintamani, di penginapan bernama Hotel Lakeview. Hotel ini tidak terlalu cozy namun lokasinya yang strategis dengan view langsung menghadap Danau dan Gunung Batur membuat hotel ini pantas diinapin sesekali. Sesampainya di hotel, aku duduk di balkon yang berhadapan dengan danau dan duduk berjam-jam disana, ya berjam-jam! Jika anda pecinta trekking, nginap di hotel itu dan berkelana di alam pada subuh hingga pagi hari sungguhlah tepat. Sebelum balik ke jakarta keesokan harinya, aku pun menyempatkan mandi di pemandian air hangat Toya Bungkah.

Kenangan-kenangan itu kembali lagi muncul beberapa hari lalu, saat aku mengajak si mamak untuk berlibur ke pulau ini. Liburan 3 hari memang bukanlah waktu yang cukup, karena banyak hal yang layak dinikmati di pulau ini. Meskipun tempat-tempat yang kami kunjungi umumnya sudah pernah aku kunjungi, namun karena liburannya dengan mamak, ya kesan dan rasa senangnya pun berbeda, lebih senang tepatnya.

Hari Pertama, kami menghabiskan setengah hari di daerah Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan Pura Luhur Uluwatu. Patung Garuda Wisnu Kencana yang jika pembangunannya selesai akan menjadi patung terbesar di dunia dan mengalahkan Patung Liberty ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Dulu tahun 2009, seingatku untuk masuk GWK bayar tiketnya murah, tidak lebih dari Rp 20.000, tapi kemaren udah naik jadi Rp 50.000 per orang untuk turis domestik. Kami pun berkeliling-keliling dan berfoto ria di bagian-bagian patung GWK yang terpisah-pisah itu. Karena GWK itu luas sekali, jadi jalan kakinya lumayan, mataharinya pun terik.

 

Merasa cukup untuk melihat-lihat di GWK, kami meluncur ke sebuah pura yang cantik di Uluwatu. Pura yang berada pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut ini dipercaya umat Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Di lokasi pura ini pula, ditemui banyak monyet yang suka jahil. Konon monyet-monyet ini diyakini sebagai penjaga pura. Sesampainya di lokasi pura, anda perlu hati-hati dengan topi, kacamata, bando, syal, atau bahkan tas anda. Karena jika lengah, si monyet dapat saja mengambil barang-barang tersebut dan kabur. Hal yang sangat menarik dari Pura ini adalah keindahan alamnya yang menakjubkan. Tebing-tebing curam, ditambah bagunan pura di ujung-ujung tebing, dan ombak pantai yang besar membuat keindahan itu sangat memikat. Sang Pencipta pastilah indah menciptakan alam seindah ini! Sesekali si mamak berdiri di dinding pembatas dan terdiam menghadap lautan luas dan ombak yang terpecah di pantai. Diam-diam aku ambil fotonya yang terlihat terkagum. Satu hal yang sedikit mengecewakan adalah bahwa kami tidak kebagian sunset yang bagus pada waktu itu. Matahari sore tertutup awan tebal dan tidak terlihat sama sekali ketika bola matahari turun dan menghilang di balik lautan.

??????????

 

Hari kedua, setelah menghabiskan beberapa jam berjalan pagi menikmati indah dan tenangnya Pantai Kuta, rute yang kami pilih adalah mengunjungi Bedugul dan Tanah Lot. Kami memulai dengan daerah Bedugul. Berbeda dengan GWK dan Uluwatu yang panas dan terik, daerah Bedugul yang berlokasi di Kabupaten Tabanan ini sangat lah sejuk dan berangin karena terletak di dataran tinggi. Di daerah ini terdapat sebuah Pura bernama Pura Ulun Danu yang berada di tengah Danau Beratan yang bersih. Konon tempat ini merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan. Kawasan yang memamerkan pemandangan gunung dan danau ini sangatlah memikat. Aku dan mamak berjalan mengitari kompleks itu dan sesekali ambil foto. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa para photografer yang berkeliaran di kawasan itu. Hasilnya, cukup memuaskan dengan harga Rp 15.000 per lembar foto. Sang photografer pun menawarkan untuk mengambil beberapa foto menggunakan kameraku di sudut-sudut strategis secara cuma-cuma setelah kami membeli 3 foto darinya. Sebelum meluncur menuju Tanah Lot untuk berburu sunset disana, kami pun menikmati makan siang di Restoran Mentari yang berlokasi tidak jauh dari kawasan Pura. Makan siang dengan ala buffet seharga Rp 120.000/orang (tidak termasuk minum) tidaklah terlalu mahal untuk menu yang cukup bervariasi mulai sop, main course, dan buah, rasanya pun lumayan enak.

 

Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot. Sepanjang perjalanan, si bapak Supir banyak bercerita tentang lokasi-lokasi yang kami lewati. Pada pukul 16.30 WITA, kami mencapai Tanah Lot. Turis disana sudah terlihat bejubel. Air laut kelihatan mulai surut sehingga orang-orang dapat berfoto dekat dengan pura yang terletak di atas bongkahan batu di tengah pantai. Di kawasan tanah lot ini, terdapat 2 pura, yaitu pura di tengah pantai dan pura di atas tebing yang menjorok ke laut (mirip dengan pura di Uluwatu). Kami berjalan mengitari kawasan ini selama hampir 2 jam hingga sunset. Untuk kedua kali, kami tidak kebagian sunset yang sempurna. Namun, meskipun sunset nya tidak terlalu bagus, warna lembayung sore itu sangat mempesona, cukup indah untuk menutup perjalanan kami hari itu. Sebelum mencapai hotel, kami memutuskan untuk berbelanja oleh-oleh di Krisna.

??????????

 

Hari ketiga, di pagi hari kami menikmati pemandangan dari kolam renang Hotel Mercure Kuta. Meskipun tidak terlalu besar, kolam renang yang menghadap laut ini memang cukup mengesankan dan terlihat cukup terawat. Keindahan laut juga dapat dinikmati di restoran hotel yang ber-view laut. Setelah menikmati sarapan pagi, kami kemudian memulai perjalanan ke daerah Kintamani. Meskipun memakan waktu 2 jam dari Kuta, menuju daerah Kintamani tidaklah membosankan. Sesekali anda bisa melakukan aktivitas tea testing atau coffee testing, yaitu berhenti di perkebunan kopi dan teh sambil mencicipi suguhan berbagai jenis teh atau kopi.

 

???????????????????????????????

Di Daerah Kintamani, wisata yang ditawarkan adalah mountain view dan lake view Gunung Batur dan Danau Batur. Anda dapat memilih untuk duduk di berbagai restoran di pinggiran danau untuk menikmati makan dan minum sembari menikmati pemandangan alam yang mempesona. Atau anda dapat juga berdiri di lookout untuk sekedar ambil foto. Kami memilih untuk menikmati pemandangan sambil minum minuman segar di Restoran Grand Puncak Sari. Pemandangan dari restoran ini sedikit berbeda dengan pemandangan dari Restoran di Lakeview. Grand Puncak Sari menonjolkan view hamparan Gunung Batur secara sempurna lengkap dengan pasir dan batuan hitamnya. Pasir dan batuan hitam ini sebenarnya terbentuk dari Lava yang mengering dari letusan terakhir gunung Batur pada tahun 1925. Di Restoran Lakeview, anda akan lebih menikmati pemandangan Danau Batur secara lebih sempurna. Keduanya tetaplah merupakan spot yang terbaik untuk menikmati alam Kintamani. Jika waktu anda mengijinkan, anda bisa mengunjungi Desa Trunyan yakni sebuah desa kuno di tepi Danau Batur. Umumnya untuk mencapainya harus menyeberang danau Batur selama 45 menit dengan perahu bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakkan dengan dayung. Desa ini terkenal dengan tradisi pemakaman mayatnya, dimana jenazah dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan.

?????????? ??????????

Jam sudah tengah hari ketika kami meninggalkan daerah Kintamani menuju Ubud. Kami memutuskan untuk tidak makan siang di Kintamani karena mau mencicipi hidangan Babi Guling Ibu Oka di daerah Ubud. Sebelum ke Ibu Oka, sang supir membawa kami melihat-lihat pemandangan teras sawah (Tegalang Rice Terrace). Sebagai anak kelahiran Balige, melihat persawahan bukanlah hal baru buat kami, namun memang rice terrace di daerah itu terlihat bagus dan rapi. Melihat rice terrace di Bali tidak saja memberikan kesan keindahan, namun menyimpan nilai luhur yang layak untuk ditiru, yaitu pengairan sawah melalui sistem Subak. Subak adalah sistem pengelolaan pendistribusian aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Melalui sistem subak, para petani memperoleh jatah air sesuai ketentuan hasil musyawarah. Secara filosofis, sistem subak ini merupakan implementasi dari konsep “tri hita karana”, yaitu kebahagiaan yang diperoleh dari keharmonisan hubungan antara Tuhan, manusia dan alam. Yang membuat Subak itu menjadi lebih spesial adalah asas kerjanya berdasarkan asas keadilan dan perencanaan yang matang (berapa luas dan berapa banyak air yang dibutuhkan setiap petak sawah).

 

????????????????????

Tidak puas hanya berdiri di lookout, kami memutuskan untuk turun mendekati persawahan tersebut. Sembari melihat-lihat dan foto-foto, si mamak akhirnya bersuara ‘kita mendingan makan siang di sini aja deh, sambil lihat-lihat’. Kami pun membatalkan menu babi Guling Ibu Oka, dan memilih untuk duduk di gubuk-gubuk lesehan sebuah restoran yang berlokasi persis di seberang pemandangan rice terrace. Kami duduk di spot yang strategis sambil memesan makan dan minum. Menghabiskan sekitaran 2 jam di daerah teras sawah tersebut, makan dan ngobrol sambil sesekali melempar pandangan ke rice terrace, kami pun melanjutkan perjalanan menuju By pass Ngurah Rai untuk membeli Pia Legong, oleh-oleh khas Bali yang selalu dipadati pembeli.

Sesampainya di pusat oleh-oleh Pia Legong ini memang terlihat orang mengantri panjang. Setelah mengantri selama 20 menit, akhirnya kami membeli 5 kotak pia legong dan langsung beranjak menuju bandara.

Liburan selama 3 hari tersebut pun berakhir dengan sempurna sesampainya kami di bandara dengan tidak telat. Selama liburan itu si mamak terlihat sangat menikmati menit demi menit perjalanan dan buatku itu sudah cukup. Jika nanti ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke pulau ini bersama si mamak, kami akan mengunjungi spot-spot wisata yang lain, yang memang masih banyak dan tidak kalah menarik.

 

Bali, every place every occasion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s