Mari berkontrak :p

Boarding pukul 11.30, akupun memutuskan untuk berangkat lebih pagian. Kondisi transportasi Jakarta tidak pernah terprediksi. Awalnya aku berencana untuk berangkat jam 8 pagi dengan pertimbangan bahwa transportasi Bekasi – Soetta mungkin tidak terlalu memprihatinkan. Alokasi waktu 3 jam mungkin lebih dari cukup, pikirku. Namun rencana itu berubah lagi, aku memutuskan untuk berangkat jam 7.15 pagi untuk mengatasi kuatirku atas kemacetan. Dengan mengalokasikan 4 jam hatiku mungkin akan lebih santai. Alhasil, perjalanan Bekasi-Soetta hanya memakan waktu tidak sampai 2 jam! Sisa waktu 2 jam lebih ngapain yak? Pikiranku mulai berputar. Lalu, otak ini langsung merencanakan untuk bertegur sapa dengan blogku yang udah ages ga pernah dijamah. 2 jam lebih waktu di bandara tanpa ada aktivitas berarti punya waktu cukup untuk menuliskan sepatah dua kata di blog ku.

Sesampainya di bandara, tanpa check in karena udah check in sehari sebelumnya, aku pun melangkah menuju kedai kopi di salah satu pojokan bandara. Aku benar-benar tak sabar untuk mengetik kata-kata yang sudah terlintas selama perjalanan. Setelah memesan teh dan celingak celinguk mencari spot strategis tempat meletakkan laptop kantor yang segede-gede gaban ini, aku pun akhirnya duduk manis di pojokan, sebelah exhaust yang sudah tidak berfungsi. Keriuhan kedai itu menjadi back sound acara tulis menulis ku.

Sesekali aku meneguk teh yang sudah tidak terlalu panas lagi sambil membiarkan ide-ide mengalir dan membentuk suatu wujud.

Oia, tentang apa tadi? Pikiranku pun mulai mengubek-ubek ide-ide tadi. Oia, integritas!

Kata ini, terus terang cukup menakutkan buat ku. Apalagi membicarakannya. Sembari berpikir, tak henti-hentinya hati ini menghakimi tuannya. Stttt! Sahutku ke hati yang mulai mencibir.

Dalam dunia yang serba tidak sempurna ini, rencana baik apa yang bisa dilakukan secara sempurna? (berfikir hal ini adalah awal yang baik, untuk menghibur diri).

Semenjak memutuskan untuk berkata ‘tidak’ terhadap ‘hal yang tidak bisa disebut’ ini, aku menghadapi banyak sekali rintangan jika bukan kesulitan. Beberapa konsekuensi dari keputusan itu memang sudah terprediksi sebelumnya, dan aku memutuskan untuk mengembannya. Tampak tidak terlalu berat awalnya, pasti bisa dilalui, pikirku. Namun, seiring berjalannya waktu, kesulitan-kesulitan mulai terasa, banyak konsekuensi yang tidak terprediksi. Sialnya, konsekuensi yang tidak terprediksi ini malah jauh lebih sulit dari yang kubayangkan sebelumnya.

Ketika anda memutuskan untuk melakukan ‘sesuatu hal’, katakanlah ‘yang baik secara moral’, banyak rintangan yang akan dihadapi. Rintangan itu tidak hanya datang dari orang atau situasi yang sekali-sekali melintas dalam kehidupan anda, tetapi bahkan dari orang dan situasi yang dekat dengan anda, yang secara rutin, jika bukan selalu, dalam kehidupan anda. Disanalah letak kesulitan sebenarnya!

Sejak memutuskan berkomitmen untuk melakukan ‘hal yang tidak bisa disebut ini’ sekitar 4 tahun lalu, aku harus jujur bahwa bukan hanya kesulitan demi kesulitan yang muncul, tetapi keteguhan hati menjadi buah manisnya. Memang, dalam pelaksanaan ‘hal yang tidak bisa disebut ini’, tidak akan sesempurna yang aku rencanakan sebelumnya. Soalnya dalam dunia yang tidak sempurna ini, kita bersentuhan dan berinteraksi bahkan menjadi bagian dari dunia yang tidak sempurna itu. Kegagalan (yang sejujurnya karena kondisi yang di luar kendali), sering membuat hati ciut.

Apa hubungannya ceritaku di atas dengan integritas seperti yang aku sebutkan sebelumnya? Begini: melakukan hal baik sesuai komitmen anda, adalah ibarat kontrak/janji personal dengan Yang Maha Kuasa. Mungkin istilah kontrak kurang pas, karena kontrak itu ada unsur hak dan kewajiban dan ada pula konsekuensi. Berjanji secara personal dengan Yang Maha Kuasa bukanlah melakukan suatu hal untuk mendapatkan suatu hal. Setidaknya inilah yang aku dapatkan dalam Iman Kristiani. Melakukan hal baik adalah bukan untuk mendapat yang baik, namun melakukan hal baik karena sudah ‘dibaikin’ terlebih dahulu.

Aku menggunakan istilah kontrak personal di sini karena melakukan hal baik itu sifatnya lebih personal, komitmen pribadi . Terkadang kontrak personal itu bertalian dengan kondisi lingkungan yang sifatnya tampak, jadi kontrak itu mau tidak mau akan juga sering tampak by condition. Kontrak personal itu, menurut aku, tidak memerlukan saksi apalagi bukti. Jadi, pure merupakan pernyataan dan pelaksanaan pribadi.

Dalam pelaksanaan kontrak pribadi itulah dibutuhkan integritas. Integritas ini sulit diukur apalagi dirumuskan. Dia hanya akan tercetus oleh karena kesadaran, dikuatkan oleh iman, dan semestinya terlaksana oleh kasih. Tanpa kesadaran, iman, dan kasih, integritas tidak akan pernah menjadi integritas, atau tidak akan pernah sempurna. Hal itulah penyebab mengapa dalam pelaksanaan kontrak personal, integritas ini sering bolong dan cacat. Namun, apakah hal itu membuat hati ciut, ya kadang-kadang. Tapi apakah hal itu membuat kita berhenti? Semestinya tidak.

Integritas itu berbuah manis dan good for the soul. Apa buah manisnya? Coba deh, rasain sendiri😉

Mari berkontrak :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s