Kegagalan itu menakutkan?

Orang bilang ‘kegagalan adalah sukses yang tertunda’, tapi saya berfikir, masa iya? Jadi kalau kita gagal mencapai sesuatu, ada jaminan kalau berikutnya kita akan berhasil? Kalau gagalnya berulang-ulang berarti pasti nanti berhasilnya berulang-ulang? Trus yang ‘berhasil’ melakukan/mencapai sesuatu itu berarti sudah mengalami kegagalan sebelumnya?

Di banyak kasus, setelah gagal orang bisa jadi berhasil. Tapi di banyak kasus juga org gagal dan gagal lagi mencapai sesuatu, walau udah usaha. Mungkin anda akan bilang, mungkin usahanya kurang maksimal. Well, how do we know?

Dalam banyak kasus, kegagalan itu memang tidak mengenakkan, bahkan bisa meninggalkan bekas, efeknya banyak, termasuk ‘rasa takut mencoba lagi’. Tidak dapat dipungkiri memang, efek kegagalan bisa minor bisa juga mayor. Tanpa merasa lebih kuat, sebagai seseorang yang banyak menghadapi kegagalan dalam hidup (kecian de gw!), ada 4 hal yang kuamati:

1. Kegagalan ada konteksnya.

Kegagalan melakukan sesuatu sering terlalu menyita perhatian kita, karna gagal itu memang menyebalkan. Tanpa disadari, objek kegagalan kita memenuhi pikiran dan mempengaruhi tindakan. Jika tidak cepat-cepat mengalihkan perhatian, kegagalan itu dapat menggerogoti hidup mau tidak mau.

Hal yang selalu kita lupa, kegagalan itu ada konteksnya. Kegagalan hanyalah salah satu subsistem yang membangun suatu sistem. Dalam sistem itu ada banyak subsistem yang saling mempengaruhi. Ketidakmampuan utk memahami sistem dan fokus ke satu subsistem membuat kita kehilangan konteks. Tahukah anda jika sampai kehilangan konteks kegagalan? Perasaan-perasaan dan keputusan-keputusan anda tidak akan objektif, jika tidak menyesatkan.

Oleh karena itu, ketika gagal, ada baiknya kita refleksi, menganalisa kembali alur cerita sebelumnya, dan menarik hal-hal bijak untuk melangkah ke depan. Hal ini perlu untuk menempatkan objek kegagalan dalam konteks yang benar. Tapi saya tidak berani menjamin bahwa hal-hal bijak yang kita sudah peroleh akan membuat kita berhasil mencapai sesuatu yang gagal itu ya. Hal-hal bijak yang kita peroleh ini yang akan mengubah point of view kita akan kegagalan itu sendiri, dan kita jadi memahami konteks kegagalan itu.

2. Kegagalan mengajarkan untuk kita bisa lebih empati

Kita seharusnya bersyukur jika gagal. Hal itu masih mengingatkan kita bahwa kita bukanlah mahkluk sempurna, dan orang lain juga tidak sempurna. Jika kita gagal di satu aspek, kita bergumul, dan berusaha bangkit, akan menjadi bekal kita untuk memahami kondisi orang lain yang berada di kondisi kita itu. Walau memang kasus per kasus tidak ada yang sama persis. Tapi, setidaknya melalui kegagalan yang mungkin ‘menyakitkan’ membangun rasa empati yang benar.

3. Kegagalan mengajarkan untuk lebih rendah hati.

Rendah hati bukanlah rendah diri. Di banyak kasus, kegagalan membuat orang jadi rendah diri, takut mencoba karna takut gagal. Itu bukan rendah hati. Kesadaran dan penerimaan yang benar akan kegagalan dapat membantu kita untuk lebih rendah hati. Kegagalan dapat membantu kita untuk memiliki kesadaran yang benar akan diri sendiri dan lingkungan. Kegagalan mengingatkan kita bahwa kita ternyata hanyalah manusia yang tidak sempurna. Poin ini menghantarkan kita kepada makna kegagalan yang paling penting berikutnya, yaitu:

4. Kegagalan mengajarkan untuk selalu bersandar kepada Pemilik Hidup, Pencipta Dunia dan Segala Isinya.

Dunia ada yang empunya, yaitu Dia Sang Pencipta. Tidak ada satu titikpun dari segala sesuatu yang dapat lepas dari pengawasanNya. Dia tahu bahwa kita adalah hanya ciptaan, sering gagal, dan dia tau saat kita gagal. Kenyataannya, kita sering menyadari posisi kita sebagai ciptaan saat kita gagal. Kegagalan membuat kita merasa butuh bantuan/kekuatan karna kita bukan mahkluk serba bisa, dan sumber bantuan/kekuatan adalah Dia. Dan justeru saat gagal dan lemah, kuasaNya sempurna atas kita, jika kita berseru kepadaNya.

Jika kegagalan itu mengajarkan banyak hal, dan yang paling utama bahwa kegagalan itu membawa kita pada kesadaran bahwa Tuhan yang Maha Kasih itu mampu membantu dan menguatkan kita, apakah kegagalan itu masih menakutkan? Atau malah suatu berkat?

Kegagalan itu menakutkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s