Marahlah…!?

Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam (Mazmur 4:4)

Marah adalah emosi yang sangat lumrah karena manusia adalah makhluk emosional. Emosi ini membuat hidup manusia itu jadi berwarna; ada marah, ada senang, ada duka, ada suka, ada kecewa, ada bahagia, dan sebagainya, silih berganti.

Penyebab dan Akibat Marah

Kemarahan bisa muncul karena berbagai hal, yang pasti hal tersebut berhubungan dengan sesuatu terjadi tidak seperti yang kita harapkan atau tidak seperti seharusnya. Dalam dunia yang fana ini, banyak hal yang seharusnya terjadi tapi tidak terjadi, dan yang seharusnya tidak terjadi malah terjadi. Kemarahan pun akan sering timbul.

Marah dapat membawa kita ke dalam situasi baik dan juga buruk. Tergantung bagaimana kita mengelola kemarahan itu. Berdampak positif jika setelah marah kondisi di hadapan kita membaik. Kondisi yang dimaksud bisa kondisi diri sendiri, kondisi orang lain di sekitar kita, dan kondisi sesuatu yang kita marahkan. Kalo tidak keberatan, kita katakan saja marah ini merupakan jenis marah yang membangun.

Marah yang membangun?

Marah yang membangun menyebabkan kondisi emosi kita kembali stabil. Pernah dengar seseorang depresi karena menyimpan kemarahan? Karena itu silahkan anda marah yang membangun jika diperlukan. Caranya? Waah ini bisa beragam, bisa dengan berteriak sekencang-kencangnya (usahakan di tempat sepi yah, soalnya takutnya orang yang dengar teriakan kita bisa sakit jantung! Ntar malah anda masuk kantor polisi!); bisa dengan memukul tembok (hati-hati kepalan tangannya, kalo aku sih biasanya mukul bantal :p); bisa dengan mencoret-coret kertas (usahakan berpola abstrak, sedapat mungkin jangan tulis kemarahan anda, ada alasan untuk ini, nanti aku jelaskan); bisa dengan menangis (sekencang-kencangnya gapapa, gue banget! Ditambah pulak dengan ngomel-ngomel sendiri :p), bisa dengan marah di depan kaca (siapa tau setelah anda melihat betapa jeleknya wajah anda kalo lagi marah, anda jadi berhenti marah, hehe); dan sedapat mungkin, utarakan kepada Sang Khalik, Dia yang paling tau, menangislah kepadaNya, tumpahkan semuanyaaa!

Marah yang tidak membangun?

Kalo ada marah yang membangun, berarti ada dong marah yang tidak membangun. Seperti apa itu? Nah ini juga beragam, yang pasti marah jenis ini membuat kondisi jadi makin runyam. Kemarahan jenis ini bisa dikatakan berlebihan (orang bilang lebay.com), bisa berupa perkataan berlebihan maupun tindakan berlebihan.

Kemarahan sering, jika tidak selalu, membuat kita kehilangan orientasi (batas maupun lokasi), alias tidak sadarkan diri, orang bilang gelap mata. Bagi wanita, marah jenis ini ditandai dengan mulut yang terus mengoceh (ocehan saat marah dapat melebihi batas dan menyangkut pihak-pihak lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan objek masalah); sedangkan bagi pria ditandai dengan tindakan yang menghancurkan. Pada kondisi tertentu, wanita pun dapat melakukan tindakan berlebihan, misalnya jambak-jambakan!:p

Minimalkan peran mulut!

Lidah adalah api! Dalam kondisi gelap mata, lidah dapat mengeluarkan kosa kata yang tidak pantas dan menyakitkan, yang justeru menimbulkan kemarahan baru. Ini memang sangat susah, terutama, bagi wanita (pengalaman pribadi!). Jika memang demikian, dalam kondisi marah, pergilah menyendiri, berteriaklah sekencang2nya, menangislah meraung-raung, berdoalah. Jika anda mau, tumpahkan kemarahan anda kepada seseorang yg tidak terlibat sama sekali dengan objek kemarahan anda. Tapi pilihlah orang yang bijaksana, orang yang memang mengasihi anda. Orang-orang seperti ini tidak banyak, I tell you!

Beradu fisik lah dgn benda mati sekitar anda

Entah bagaimana mekanismenya tubuh, dalam kondisi marah, tangan dan kaki jadi lebih ringan untuk diayun. Maka tidak heran jika dalam kondisi marah, adu fisikpun terjadi. Hal ini  terutama banyak terjadi di kalangan kaum pria. Agar kemarahan anda tidak menimbulkan masalah baru, dalam kondisi marah, sedapat mungkin, jika memang harus mengayunkan tangan, sebaiknya ayunkan tanganmu ke benda-benda mati sekitarmu (ya intinya jangan ke orang lain). Benda-benda ini bisa saja tembok, aspal, jendela, lemari, piring2, dll. Tapi usahakan yang anda rusak adalah properti anda sendiri yah, sebab jika yang anda rusak adalah properti orang lain, ya silahkan itung-itungan setelahnya!:p

Sedapat mungkin jangan menuliskan kemarahan anda

Mencurahkan isi hati melalui tulisan adalah hal yang biasa bagi wanita (umumnya bagi wanita melow!). Bagi banyak orang, tindakan ini membantu. Tapi menurut saya, sebaiknya jangan menulis kemarahan anda, karena jika suatu saat anda membacanya, anda akan mengingat dan marah anda bisa saja muncul lagi. Atau lebih buruknya, orang lain (yang terlibat dengan kemarahan anda) bisa membacanya dan jadilah masalah baru. Ingat, saat marah, kita susah untuk objektif dan berfikir jernih sehingga akan banyak kata-kata yang tidak baik yang keluar. Karena itu, saat marah dan bawaannya harus menulis, sebaiknya anda mencorat coret buku anda dengan pola abstrak. Yang anda tuliskan sebaiknya adalah hal-hal yang membangun dan berguna.

Ambil waktu sendiri untuk cari angin

Emosi itu sifatnya naik turun. Ada kalanya naik ada kalanya turun. Itu hanya masalah waktu. Ga mungkin emosi naik terus, ga mungkin turun terus. Marah juga demikian. Karena itu peran waktu sangat besar. Saat kemarahan anda memuncak, belajarnya utk mengulur waktu utk menumpahkan/mengutarakannya. Ini memang sulit sekali!  Jika anda marah terhadap seseorang, tinggalkan dia, keluarlah (bagi wanita, belanjalah :p), hindari kontak dengan dia beberapa waktu, dan  jangan dulu memikirkan kemarahan anda itu beberapa saat. Ketika sudah cooling down, utarakanlah kekesalan anda.

Membalas dendam bukan hak kita

Pasa kondisi tertentu (misalnya karna kesalahan yang berulang atau kesalahan orang lain yang sangat merugikan kita), kemarahan yang tidak tersalurkan dapat berubah bentuk menjadi dendam. Jika sudah sampai pada tahap ini, hindari kontak dengan yang bersangkutan dan banyak-banyaklah melakukan aktivitas. Jika kesalahan orang tersebut sudah masuk dalam ranah hukum, berurusanlah dan serahkanlah kepada pihak-pihak yang berwajib untuk menyelesaikannya.  Jika kita merasa hukuman yang dijatuhkan kepada dia tidak setimpal walau kita sudah protes melalui jalur hukum yang baik, biarkan saja lah. Serahkan semuanya kepada Dia yang dapat menghukum dengan seadil-adilnya. Balas dendam adalah hakNya.

So teman-teman…mari rame-rame marah (yang membangun) jika diperlukan.:)

Marahlah…!?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s