Terang yang Menerangi

Judul di atas cukup membingungkan ya? Terang ya menerangi! Emang ada terang yang tidak menerangi? Kalo tidak menerangi ya itu bukan terang.

Benda terang

Kalo bicara terang, apa yang terlintas di benak kita? Mungkin aku tidak salah jika mengatakan: pelita, lentera, lilin, senter, lampu, dll; yaitu benda-benda yang biasanya berfungsi menerangi. Bagi orang Kristen, istilah terang sering dihubungkan dengan lilin dan pelita. Mungkin dua benda ini yang paling lazim digunakan oleh orang zaman dulu yang ‘mungkin’ belum ada baterai dan listrik. Tapi benda apapun yang digunakan sebagai symbol, terang itu dipakai untuk menerangi.

Karakteristik lilin dan pelita sebagai simbol terang

Aku ambil dua benda ini untuk mempermudah ilustrasi, walau karakteristik benda terang akan selalu mirip. Pertama: lilin dan pelita pada umumnya dipakai untuk menerangi, walau terkadang dipake untuk perayaan-perayaan tertentu (ulang tahun, natal, dll) sebagai asesoris ketimbang menerangi. Kedua, baik menerangi atau pun sebagai asesoris, lilin dan pelita selalu ditempatkan di tempat yang agak tinggi, tidak akan ditaruh di bawah ranjang, di bawah meja, dll. Ketiga, untuk menghasilkan terang, lilin dan pelita harus dibakar; lilin meleleh sampai akhirnya menjadi cair dan pelita sampai kehabisan minyak (bahan bakarnya).

Sebagai penerang, sebagai asesoris, atau tidak dua-duanya

Benda terang pada umumnya dipakai untuk menerangi kegelapan, jika dipakai di tempat terang maka akan mubajir dan tidak berguna. Lilin sebagai asesoris bisa saja digunakan, tapi itu bukan fungsi utamanya. Coba kita bayangkan, jika di suatu rumah sudah terang, apa perlu lilin/pelita untuk menerangi? Jika seandainya pun lilin dinyalakan, bisa saja menambah terang, tapi tidak sesignifikan jika lilin/pelita itu dipakai di tempat gelap.

Tergantung ukuran ruangan

Ukuran ruangan akan sangat menentukan berapa jumlah lilin/pelita untuk menerangi. Bayangkan jika cuma ada 1 lilin/pelita di ruang gelap, cahayanya akan sangat terlihat, walau mungkin belum benar-benar membuat tempat itu terang benderang. Kalo ada 2,3,4, dst lilin/pelita di tempat gelap tersebut, maka tempat itu akan semakin terang. Tapi ada kalanya ketika lilin sudah mencapai jumlah tertentu, cahaya terangnya tidak lagi terlalu signifikan. Dia akan lebih berguna jika berada di tempat gelap lainnya.

Benda terang membutuhkan bahan bakar

Bahan bakar lilin dapat berupa lemak cair, atau sejenisnya, yang didinginkan; pelita berbahan bakar minyak. Tanpa bahan bakar, lilin dan pelita tidak akan bisa menyala. Terlepas dari harganya, Lilin dan Pelita akan dapat menerangi selama bahan bakar itu terus menerus diisi.

Dalam kehidupan kekristenan, karakteristik lilin dan pelita ini mungkin dapat menjadi ilustrasi. Apakah kita adalah terang? Apakah kita berfungsi menerangi atau tidak? Apakah  kita bersekutu dengan terang lainnya untuk membuat ‘ruangan’ lebih terang? Apakah kita lebih nyaman berada dalam ruangan yang sudah terang? Apakah bahan bakar kita (Firman Tuhan) selalu terisi atau sudah kosong dan perlu diisi?

Terang yang Menerangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s