Kitchen Stories -nya Anak Kos

Cerita ini dimulai di suatu sabtu pagi, ketika aku buka pintu kamar hendak mandi, aroma masakan dari lantai di bawah sangat mengundang selera, sepertinya masakannya tumisan. ‘Jadi pengen masak’ ucapku dalam hati. Tapi mengingat kondisi dapur kos-kosan yang ‘sangat’ tidak layak itu, keinginan masakku pun tiba-tiba pudar. Dapur kecil dengan kompor gas bertungku 2 untuk anak kos berjumlah 50 an orang apa bisa dikatakan layak? Tapi sepertinya model dapur kos-kos an di Jakarta tidak terlalu jauh berbeda, agak kurang layak. Anak kos pada umumnya memilih beli makanan dari warung-warung sekitar kos-kosan, ketimbang masak yang menyita cukup banyak waktu, belum termasuk belanja! Bagaimana tidak, pulang kantor aja udah malam (secara macetnya ampun-ampun), boro-boro masak deh, buat istirahat aja kurang. Keinginanku untuk masak sih kadang-kadang doang, biasanya sehabis ngintip masakan anak kos ketika aku lagi cuci piring apa gelas di dapur, kalo ga ya karna mencium aroma masakan dari dapur.

Seraya mandi, pikiranku pun melayang ke peristiwa-peristiwa dapur waktu masih kuliah dan jadi anak kos di Bandung sekitar sepuluh tahun lalu dan di Sydney beberapa tahun lalu. Di Bandung, dulu pernah ngontrak rumah bareng teman-teman sekampung, jadi ya dapurnya juga cukup luas. Beberapa kali aku masak, tapi kebanyakan ga masak juga secara beban kuliah S1 yang kelewat banyak. Kita harus belajar semua di tahun pertama; fisika, kimia, sampai ilmu Pancasila (lupa apa dulu nama mata kuliahnya), walaupun tidak terkait langsung dengan jurusan yang akan kita ambil di tahun kedua. Beban kuliah ini terus meningkat di tahun-tahun berikutnya, hingga penyusunan skripsi yang kayak dikejar-kejar apaan! Jadi, menghabiskan banyak waktu untuk masak sepertinya bukan ide yang tepat waktu itu.

Hampir tidak ada kesan yang terlalu berarti dalam hal masak-memasak bersama anak kos waktu di Bandung, selain masak bihun goreng bareng Enna, salah seorang teman serumah waktu di Bandung, untuk merayakan ulang tahunku (lupa yang keberapa). (kalo Enna baca ini, mudah-mudahan dia ingat). Dia cukup mahir dalam urusan masak, apalagi yang berkaitan dengan puding. Orangnya yang suka-mencoba-hal-baru itu sering juga mencoba-coba masakan yang baru dia baca dari majalah, internet, dsb.

Pengalaman jadi anak kos di Sydney sangat berbeda. Beban kuliah relatif ‘ringan’karena ga harus mikirin nilai seperti di S1 dulu (ke kampus aja 2-3 kali seminggu doang, ini sesuai jadwal loh), sisanya belajar sendiri (baca: main). Waktu untuk melakukan hal-hal lain pun cukup banyak, termasuk MASAK! Kondisi yang kondusif ini ditambah dengan dapur rumah kos-kosan yang sangat ‘layak’. Di Sydney frekuensi masakku pun tidak salah lagi sangat tinggi, tiap hari masak! Berbagi resep masakan dengan teman se rumah menjadi rutinitasku. Kebetulan sekos sama orang Hongkong, trus Cina, setelah itu Cina lagi, dan diakhiri dengan orang Hongkong (kalo ga Hongkong ya Cina, ga tau kenapa!). Sering sekali aku dan teman serumah masaknya kolaborasi, makannya pun kolaborasi juga. Harus aku akui, kolaborasi ini kebanyakan menguntungkan aku karena mereka masaknya mahir dan ahli banget, sedangkan aku, pas-pasan! Hehe.

Beberapa kali aku mengundang teman-teman Indo lain untuk masak bareng di kos an, terkadang masak masakan masing-masing, terkadang juga aku ajak mereka untuk belajar resep yang baru aku pelajari dari teman sekos/rumah. Walaupun baru belajar, tapi karena ngerjainnya bareng-bareng, hasilnya ga jelek-jelek amat lah, waktu kami cicipi rasanya lumayan ok juga (ga tau ya kalo yang nyicipi orang lain).

Selain masak memasak di rumah/kos, aku juga diundang untuk mencicipi masakan teman-teman satu gereja, Gereja Kristen Pelita. Beberapa teman gereja sering ngundang aku hanya untuk makan setelah menonton mereka masak. Jadi, aku hanya diundang sebagai pencicip, penyantap, dan peludes makanan! Malah di hari-hari terakhir di Sydney, ada dua orang teman yang menawarkan diri untuk masak buatku di kos an ku; satu anak gereja, satunya pacar nya teman serumah. Jadilah fine dining buatan sendiri!

Urusan masak memasak ini meninggalkan kesan-kesan tersendiri buatku (urusan makan memang selalu meningkalkan kesan btw!). Waktu di Sydney, dapur menjadi salah satu tempat favoritku setelah kamar tidur, hehe…jangan tanya tentang perpustakaan, aku bisa ngitung dengan jari berapa kali nongkrong disana selama 2 tahun, itupun karena harus mengerjakan tugas kelompok! Aku malah suka pusing dengan aroma buku-buku yang berumur puluhan tahun yang disusun rapi di rak.

Beberapa hal yang berkesan waktu masa atau dimasakin (terlepas masakannya maknyos yaa, soalnya aku ga pintar masak loh) adalah:

  • Memasak itu membutuhkan waktu, tergantung masakannya juga sih. Jadi untuk menghasilkan masakan dengan rasa dan bentuk yang ok, dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Kesabaran yang tepat perlu agar masakannya ga kematengan atau kementahan. Jadi, memasak itu  langsung atau tidak langsung dapat menguji kesabaran
  • Practice makes perfect. Jangan heran jikalau resep masakan yang baru kita tau/pelajari hasilnya tidak sebaik jika resep masakan itu sudah berulang-ulang kita praktekkan. Jadi, jangan enggan untuk melakukan suatu hal yang baik sampai kita terbiasa dan ahli dalam hal itu.
  • Memasak bareng dan makan bareng sesudahnya merupakan momen yang sangat kuat untuk menjalin persahabatan dan pertemanan. Ada perasaan kedekatan yang tidak bisa dijelaskan.
  • Memasak itu merupakan serangkaian pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan kerajinan. Bagaimana tidak, kita harus belanja, masak, dan bersih-bersih sesudahnya.
  • Memasak itu memang capek, tapi pada tingkatan tertentu dapat membuat kita rileks dan bahagia. (kecuali kalo hasil masakannya tidak ok, hehe…). Tapi kan kalo untuk konsumsi pribadi ga ada beban toh?!
  • Memasak buat orang lain adalah pemberian yang sangat mahal. Betapa tidak, memasak itu butuh waktu, ketekunan, kesabaran, kerajinan, dll. Dalam sebuah masakan, semua nilai itu tergabung menjadi satu. Betapa mahal bukan?
  • Memasak bareng itu menyenangkan karena kegagalan dan kesuksesan adalah milik kita bersama! Haha

Demikian kitchen stories ini diakhiri dengan manfaat memasak bagi diri sendiri dan orang lain. Berbahagialah jikalau kamu dikaruniai talenta untuk memasak, dan kamu senang melakukannya. Pasti banyak nilai yang baik yang sudah kamu dapatkan dari kegiatan memasak itu!

Kitchen Stories -nya Anak Kos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s