Mereka galak!

‘Sabar ya mba sama anak-anak lantai 5, galak-galak semua, rajanya rusuh’, kata mba kos ketika aku pindah ke kamar di lantai yang lebih atas. Beda sama apartemen, yang kamar di lantai atas akan lebih mahal daripada kamar lantai lebih bawah, kos-kos an aku tidak ada elevator nya, jadi kamar di lantai lebih tinggi akan lebih murah *capek bok naik tangga!* Kepindahanku ke lantai yang lebih atas tidak lain tidak bukan karena faktor harga yang lebih murah. ‘Gapapalah sekalian olah raga’, hibur ku dalam hati. Secara adikku tidak lagi sekamar, dan memilih tinggal di rumahnya yang jaraknya jauh dari pusat kota, aku memilih ngekos sendiri, biar deket kmana-mana (cieee…sok banyak acara nih critanya). Jadi, ya cari kamar dengan harga yang lebih murah menjadi keputusan terbaik, bukan? Nasib anak kos!

Agak getir juga sih waktu si mba-mba penjaga kos-kos an bilang supaya sabar dan tabah menghadapi anak-anak kos satu lantai. ‘Segalak apa sih mereka?’ aku bertanya dalam hati, ‘masa lebih galak dari aku orang batak asli?’ aku menyemangati diri, walau sejujurnya agak kuatir juga.

Selama dua hari aku pun menyelenggarakan pindahan dibantu oleh abang-abangku (bukan abang tukang bakso, red), selesai pukul 23.00. ‘Baiklah, besok adalah hari pertama pelajaran kesabaran’, bisikku dalam hati, ‘lumayan, pelajaran gratis’, kutambahkan lagi.

Kebetulan malam itu aku susah tidur, udah bolak balik, menguap berkali-kali, ngintipin facebook orang (ups, ketauan deh!), tapi sang mata ini tak kunjung menutupkan kelopaknya. Daripada menyiksa diri untuk memaksa tidur, aku pun ambil buku harian dan curhat (orang batak, yang konon katanya galak, bisa curhat juga loh bok! Jangan salah!). Tiba-tiba, inspirasi mengenai pelajaran kesabaran terhadap anak-anak kos pun muncul. Ada 3 alternatif yang terlintas di pikiranku waktu itu:

  • Alternatif pertama: aku baikin mereka. Segalak-galaknya orang, kalo dibaikin masa sih tetap galak? Jadi, mulai besok aku akan menyapa setiap anak kos yang berpapasan. Mungkin mereka ga segalak yang si mba-mba kos pikir. Masa kalo aku ga salah apa-apa digalakin, aku sih berharap mereka masih waras.
  • Alternatif kedua: kalo mereka galak aku balik galakin mereka juga, wong sama-sama bayar ini. Jadi, mulai besok aku pasang tampang batak ku yang galak itu (dari sononya udah tampang galak kalee, hehe)
  • Alternatif ketiga: cuek aja, anggap setiap omelan atau galak nya mereka bagai bunyi kentut orang di Oz * orang aussie kalo kentut kan dicuekin, hihihi*. Biarin aja mereka capek sendiri. Talk to the hand!

Kemudian aku mikir konsekuensi setiap alternatif. Kalau aku lakuin alternatif pertama, which is aku baikin, ada kemungkinan mereka ga galak lagi. Jadi aku pun bisa hidup dan tinggal seatap dengan mereka dengan nyaman, alias mengalah untuk menang. Kalau aku pilih alternatif 2 alias galakin mereka balik, memang sih naluri batakku terlatih dan mungkin kekesalan terpuaskan, tapi mungkin ga kan tahan lama-lama tinggal di kos dengan situasi yang kurang enak begitu. Kalau alternaif 3 alias aku cuek aja, sebenarnya gapapa sih, tapi sampai kapan aku cuek, secara galak-galak gini aku perasa loh *aw!*. Akhirnya aku memilih alternatif 1.

Keesokan harinya, terjadilah seperti yang diceritakan si mba-mba kos. Ketika aku mandi *sebagai informasi, kamar mandi dipakai bersama-sama*, seorang anak kos gedor-gedor pintu, ‘masih lama ya mba?’ ‘Lha, aku baru masuk udah ditanya ‘masih lama’, padahal kan ada 2 kamar mandi lain yang bisa dipakai’, omelku dalam hati. ‘Ga kok mba, 5 menit lagi’, jawabku dengan bersahabat. Aku pun buru-buru mandinya. ‘Sori mba, lama ya, biasalah pagi-pagi gini satu paket hehe’, kataku ketika berpapasan dengan dia. ‘Iya, maaf ya mba saya ganggu’, sambil tersenyum dan sedikit terlihat merasa bersalah dia pun berjalan menuju kamar mandi.

Sekitar 5 menit yang lalu, ketika aku jemur handuk sehabis mandi, aku berpapasan dengan salah seorang anak kos lain dan mengajaknya berkenalan, akhirnya kami pun ngobrol dengan hangatnya lebih dari setengah jam, sampai-sampai salah seorang anak kos lain, yang sehari sebelumnya aku ajak berkenalan, keluar kamarnya dan ikut nimbrung sebentar. Kami pun berpisah dengan senyuman yang indah.

Sesampainya di kamar, aku berniat menuliskan pengalaman itu, seperti yang anda baca sekarang. Aku berharap aku bisa hidup harmonis dengan mereka, secara sehariannya udah capek bok di kantor, masa balik kos akan serasa di neraka juga…tul ga?

Tau ga temans, hal-hal ini yang aku pelajari dan masih akan terus ku pelajari (susah bok belajar mengalah!)

  • Terkadang mengalah itu penting untuk menang. Mengalah bukan berarti kalah.
  • Terkadang inisiatif untuk berteman dengan orang lain harus lahir dari niat dalam diri kita, tanpa menunggu inisiatif mereka. Ga usah nuntut mereka untuk memperlakukanmu begini atau begitu, lakukanlah terlebih dahulu apa yang kamu ingin orang lain lakukan terhadapmu, bukan begitu temans?
  • Jangan langsung berfikir negatif. Berfikirlah positif. Terkadang berfikir positif itu penting karena dapat membuat kita lebih kuat menghadapi banyak hal.
  • Terkadang melihat hal-hal baik dalam diri orang lain itu lebih berguna dan lebih membahagiakan bagi kita.

Aku memakai kata ‘terkadang’ karena mungkin setiap pendekatan tergantung pada kasusnya.

Mereka galak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s