Mari bekerja…

Mendekati akhir tahun seperti ini, mengevaluasi hidup di tahun yang lama dan membuat komitmen-komitmen untuk dijalankan di tahun yang akan datang menjadi tradisi bagi banyak orang. Namun, terus terang, aku sendiri tidak lagi memiliki tradisi itu, hehe…Menuliskan resolusi-resolusi hidup hingga mendetail, termasuk nilai kuliah, kesehatan, keimanan, sampe sikap, menjadi rutinitasku tiap tahun waktu aku menduduki bangku kuliah sarjana. Itupun sampe tahun ketiga. Sejak tahun keempat, kebiasaan (baik) itu lama-lama luntur. Paling-paling di awal tahun aku hanya menuliskan satu atau dua hal di buku harian untuk diingat dan dilakukan di tahun yang baru, lalu mendoakannya.

Terlepas dari perlu tidaknya membuat resolusi, resolusi dalam hal ‘pekerjaan’ menjadi salah satu, kalo bukan satu-satunya, fokus utama resolusi (tolong koreksi jika aku salah), khusunya bagi para pekerja. Hal itu menunjukkan bahwa pekerjaan menjadi sangat penting bagi kebanyakan orang. Kesuksesan di tempat kerja berupa karir yang meningkat dan pendapatan yang bertambah menjadi hal utama yang ditekankan.

Tidak terkecuali bagi orang-orang Kristen, resolusi mengenai pekerjaan, atau lebih tepatnya kesuksesan di tempat kerja, merupakan sesuatu yang penting (bahkan bagi beberapa orang sangat penting). Posting an ini akan mencoba untuk mengupas secara singkat aspek-aspek terkait pekerjaan, yang mudah-mudahan bisa menjadi pertimbangan anda dalam membuat resolusi..:)

Apakah bekerja itu suatu keharusan?

Tuhan memerintahkan manusia untuk bekerja, menaklukkan bumi dan segala isinya. Kita juga diminta untuk bekerja dan tidak malas, sehingga kita dapat berbuat baik dan berbagi dengan orang lain (Efesus 4:28). Bekerja adalah penting, bahkan harus. Orang yang bekerja, biarlah dia makan, sedangkan jika tidak mau bekerja janganlah dia makan (2 Tesalonika 3:10). Tuhan juga bekerja, mulai dari menciptakan bumi dengan segala isinya, hingga sekarang masih terus bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi umatNya (Roma 8:28).

Jenis pekerjaan apa yang seharusnya dikerjakan?

Alkitab tidaklah menyebutkan mana jenis-jenis pekerjaan yang lebih baik untuk digeluti orang Kristen dan mana yang tidak baik, kecuali jika pekerjaan itu secara nature nya menyebabkan kita jatuh ke dalam dosa, seperti pembunuh bayaran, mencuri, dan lain-lain. Pencuri dan pembunuh misalnya merupakan pekerjaan yang secara terang-terangan dilarang dalam Alkitab. Mencuri, dalam hal ini, perlu dicermati lebih jauh. Banyak pekerjaan yang tampaknya tidak mencuri, tetapi dalam prakteknya tidak beda dengan mencuri.

Apa pekerjaanmu tidaklah masalah, namun apakah pekerjaanmu membuatmu jatuh ke dalam dosa itu yang masalah. Selain itu, satu jenis pekerjaan tidak lebih penting bagi Tuhan dibandingkan pekerjaan lainnya, selama keduanya tidak membuat kita jatuh ke dalam dosa. Anda mau jadi guru, mau jadi pengacara, mau jadi pengusaha, mau jadi auditor, mau jadi pendeta, mau jadi agen asuransi, mau jadi pegawai negeri sipil, mau jadi akuntan, mau jadi kontraktor, sama saja. Yang membedakannya adalah apakah pekerjaanmu itu membuatmu jauh dari Tuhan dan jatuh ke dalam dosa atau tidak.

Apa tujuan bekerja?

Hal yang selalu dilupakan kebanyakan orang Kristen adalah bahwa bekerja itu bukanlah hasil akhir. Tuhan mengijinkan dan memberi kesempatan orang Kristen bekerja bukan demi pekerjaan itu sendiri, tetapi ada tujuan dibalik pekerjaan itu. Masalahnya sekarang apakah tujuan orang bekerja? Banyak orang bekerja bertujuan untuk menghasilkan uang untuk bisa makan, untuk bisa beli baju, untuk bisa beli rumah, untuk bisa menyekolahkan anak, untuk bisa mempunyai investasi masa depan, untuk bisa bayar asuransi kesehatan, dan (mungkin) untuk bisa menaikkan status sosial. Orang-orang juga bekerja untuk bisa mengaktualisasi diri, untuk bisa diterima orang banyak, dan lain-lain. Sekarang, apakah hal-hal diatas sebenarnya adalah tujuan bekerja?

Ijinkah saya untuk mengutarakan pendapat saya (silahkan dikoreksi jika anda tidak setuju). Menghasilkan uang, meningkatkan status sosial, dan mengaktualisasi diri, pada dasarnya bukanlah tujuan dari bekerja. Hal-hal itu adalah manfaat bekerja. Dengan bekerja secara otomatis kita memperoleh uang yang dapat dipergunakan untuk keperluan dan untuk berbagi dengan orang lain; dan dengan bekerja pula seseorang dapat mengaktualisasi diri sesuai bakat yang dimiliki. Tetapi hal-hal itu bukanlah tujuan dari bekerja. Tujuan bekerja bagi orang-orang Kristen, menurut saya, adalah untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan, untuk menikmati dan menyenangkan Dia, sebagai proses untuk semakin mengenal dan serupa dengan Dia.

Jika tujuan bekerja hanya untuk menghasilkan uang, berarti tidak salah jika kita menghalalkan segala cara di pekerjaan kita untuk memperoleh uang. Jika tujuan bekerja adalah untuk mengaktualisasikan diri, berarti kita bisa melakukan pekerjaan apapun yang sesuai kemauan dan kehendak kita, tak peduli apakah pekerjaan itu membuat kita jatuh ke dalam dosa. Jika tujuan bekerja adalah untuk mencari ketenaran, kita bisa bekerja dengan curang untuk mengalahkan rival kita sehingga kita satu-satunya yang tenar.

Oleh karena itulah tujuan bekerja bagi orang Kristen bukanlah untuk menghasilkan uang, bukan untuk mengaktualisasi diri atau mencari ketenaran. Tujuan bekerja adalah lebih mulia dari itu, yaitu untuk bisa melatih dan membuat kita semakin serupa dengan Dia, Sang Pencipta, dan untuk memuliakan dia melalui pekerjaan.

Bekerja itu tidak berat jika sesuai dengan passion kita?

Banyak orang berpendapat bahwa jika suatu pekerjaan sesuai dengan passion mereka maka bekerja itu menjadi asik dan tidak memberatkan; mereka akan menikmati setiap saat dalam bekerja karena mereka senang melakukannya. Dengan dasar itu, banyak orang terus menerus mencari apa yang menjadi passion mereka dan menghubungkannya dengan pekerjaan yang akan mereka geluti. Tanpa berusaha untuk tidak sependapat, aku hanya berfikir, bukankah semua pekerjaan itu memang berat, atau katakanlah menjadi membosankan dalam kurun waktu yang lama? Koreksi jika aku salah, bahkan bekerja merupakan salah satu kutukan kepada Adam, bahwa dia akan bersusah payah untuk mencari makanannya. Karena itu, bekerja tidak pernah secara nature nya menyenangkan.

Orang mengatakan, pekerjaan itu menyenangkan jika kondisi hati kita terlatih untuk menyenangi pekerjaan kita. Jadi, pekerjaan itu adalah objek, sementara kita adalah subjek, bukan sebaliknya. Selain itu, keinginan dan perasaan hati orang berubah-ubah, kesenangan kita saat ini bisa jadi tidak menjadi kesenangan kita beberapa waktu kemudian. Jadi bekerja, walaupun pada waktu tertentu menyenangkan, bisa tidak menyenangkan lagi pada kondisi/waktu lainnya.

Sebenarnya, apakah pekerjaan kita sesuai dengan passion kita bukanlah isu penting, menurut saya. Tetapi, apa passion kita? Apa tujuan kita bekerja? Itu yang menjadi isu utama. Mengenai hal ini kita sudah bahas di paragraph sebelumnya. Dengan demikian, seperti kata orang, berusahalah untuk menyenangi pekerjaanmu, dan jangan mengharapkan pekerjaan membuatmu senang.

Akhir kata, sebagai orang Kristen, hal yang perlu untuk kita ingat selalu adalah: bos kita sebenar-benarnya adalah Dia, Pencipta kita. Namun, walaupun dia Bos sebenarnya, Dia menyuruh kita untuk tunduk kepada bos-bos kita di dunia selama perintah bos-bos itu tidak bertentangan dengan keinginan Bos…:) Selamat Bekerja giat di tahun yang baru untuk kemuliaan Tuhan.

Mari bekerja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s