Nasi Sudah Menjadi Bubur

Tulisan ini bukan berisi bagaimana cara memasak nasi yang baik, bukan pula bagaimana cara memasak bubur yang baik, tapi tulisan ini hanya merupakan pengalaman harfiah yang bisa dimaknai secara simbolis.

Peribahasa ini mungkin tidak jauh beda dengan ‘kueh udah menjadi terlalu bantat’! Kalau tidak salah sih artinya: udah ga bisa diapa-apain, kalo pun diapa-apain bakalan makin runyam, makin kacau.

Aku masih ingat waktu SD, lupa kelas berapa, tapi yang pasti, waktu-waktu itu adalah awal-awal mamak mengajari aku masak nasi. Karna aku masuk sekolahnya siang hari, aku lah kebagian masak nasi. Dulu masak nasi bukan pake rice cooker, maklumlah orang kampung dulu mana kenal rice cooker, masaknya pake periuk, orang batak bilangnya ‘hudon’ (bukan ‘udon’ lo, hehe). Sebelum berangkat ngajar, mamak berpesan tentang prosedur masak nasi di periuk berikut komposisi antara air dan beras. Secara aku masih amatiran banget waktu itu soal masak memasak nasi, atau mungkin kurang perhatian sama arahan mamak, nasi ku pun alhasil menjadi bubur.

Masak pake periuk memang membutuhkan sedikit ketelatenan dan keahlian kalo bisa dibilang begitu, jadi jam terbang menjadi sangat berpengaruh. Komposisi air dan beras harus pas, itupun tergantung jenis berasnya. Ada beras yang cepat menyerap air ada yang ga, jadi komposisi ini agak susah dipastikan. Pas tidaknya ukuran air dapat dilihat pada saat nasi mendidih, orang batak bilangnya ‘saat gurgur’. Kalo saat gurgur airnya masih terlihat banyak, biasanya si pemasak akan mengurangi air, sambil sering-sering ngaduk. Nah, aku ga tau pasti salahnya dimana nasiku kok bisa jadi bubur, bisa salahnya di awal karena airnya terlalu banyak, bisa juga karna setelah mendidih aku ga kurangin air dan ga sering-sering ngaduk. Simpelnya, nasiku jadi bubur!

Sambil sedikit panik, aku mencari cara gimana biar memperbaiki kesalahan itu. Kalo bisa buburnya berubah lagi jadi nasi. Aku mikir, ‘apa aku tambah beras aja? Aduuhhh gimana nih, mamak bisa-bisa marah, rintihku dalam hati’. Pikiran yang masih polos itu mencari-cari cara seraya berkata, ‘pasti masih ada harapan, aku harus berbuat sesuatu’. Dalam situasi beras yang sudah mendidih dan airnya belum habis, dengan cepat aku tambahkan beras lagi, ‘mungkin akan lebih baik’ pikirku. Dan seperti yang sudah dapat diperkirakan, hasilnya makin hancur. Periukku berisi bubur dan nasi yang belum matang, tercampur rata tak karuan. Aku memandangi periuk itu sambil menangis, ‘sudah ga bisa diapa-apain lagi’, tinggal nasibku di tangan mamak menerima omelan dan mungkin hukuman karna ceroboh dan ga bisa dibilangin.

Entahlah apa arti nagisku waktu itu, campur aduk antara menyesal karna kurang perhatian sama arahan mamak, lebih menyesal lagi karna nasinya makin kacau dan ga bisa dimakan-yang seharusnya dibiarin aja setidaknya masih bisa dimakan walaupun dalam keadaan bubur, dan terkahir takut sama omelan mamak. Kecewa, sedih, merasa bersalah, padu jadi satu. Belum lagi aku harus kalang kabut beres-beres untuk berangkat ke sekolah. Menangis menimbulkan kekuatan, tapi juga kelemahan kalo terlalu banyak. Bisa sakit! Walaupun kegagalan itu mungkin ukurannya kecil, tapi sangat menyedihkan dan mengecewakan.

Dan tau ga teman-teman, waktu aku beritahu mamak, dengan aura baik hati dan bijaksana, beliau membelai rambutku (o Tuhan kuingat sekali momen itu), sambil berkata ‘gapapa boru, lain kali kau pasti bisa masak nasi lebih baik’. Mendengar itu, seluruh kekecewaan, ketakutan, dan penyesalan hilang menjadi rasa syukur dan tekad ‘aku harus bisa lain kali’.

Kegagalan susah sekali dihindari, lumrah walaupun tidak bisa dibenarkan, mengingat manusia sangat sangat sangat tidak sempurna. Ada kegagalan/kesalahan yang bisa diperbaiki, betul, tapi ada juga yang sebaiknya dibiarkan saja, bukan berarti tidak diperdulikan, karena jika dikasi tindakan malah kondisinya akan makin kacau. Sebagai manusia, khususnya sebagai cewek yang mewarisi sifat ompung Hawa yang susah diam dan doyan bertindak sesuatu tanpa pikir panjang (bagian ini diabaikan saja karna kurang alkitabiah, hehe…cuman mau cari orang yang bisa disalahkan, bahkan ompung Hawa sekalipun!), kesalahan yang harusnya didiamkan untuk seketika waktu suka diungkit dan dicari jalan keluarnya. Alhasil, bukan jalan keluar yang terbaik yang menjadi hasilnya, malah sebaliknya.

Jadi apa yang bisa diperlajari (terkhusus mau ngomong sama diri sendiri nih):

1. Ketika kita melakukan kesalahan, jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri, jangan pula menyalahkan orang lain. Terima saja kesalahan itu, seraya berkata pada diri sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

2. Meminta maaf jika ada pihak yang dirugikan. Minta maaf ini sebaiknya dilakukan secara langsung, karena dengan perantaraan akan menyebabkan banyak distorsi. Meminta maaf ini bukan hal yang mudah pulak, karna membutuhkan kerendahan hati dan ketulusan.

3. Bertindak untuk memperbaiki keadaan. Langkah ini aga sedikit beresiko dan membutuhkan ‘seni’ karena ada kesalahan yang perlu kita diamkan dulu untuk sesaat seraya mencari angin segar. Selang waktu ini dapat dipergunakan untuk berfikir sebelum mengambil tindakan selanjutnya, jika diperlukan. Untuk orang-orang kurang sabar seperti aku ini, langkah ini membutuhkan perhatian khusus.

4. Berdamai dengan diri sendiri dan move on. Kembali lagi langkah ini bukanlah hal mudah, ada kecenderungan (bisa dibilang greget) untuk bisa mengulang lagi dari awal, meng-undo. Tapi itu mustahil, sudah terjadi, yang bisa dilakukan hanya langkah adaptasi. Bagi beberapa orang, proses ini bisa memakan waktu yang lama, tapi untuk beberapa orang bisa dalam sekejap, sangat tergantung kepribadian dan kebolehan beradaptasi. Minta pertolongan teman sangat disarankan di tahap ini, tapi sekali lagi, teman yang cukup bijaksana dan menyayagi kita.

Mungkin ada tips-tips lain dari teman-teman, silahkan menambahkan…:)

Nasi Sudah Menjadi Bubur

2 thoughts on “Nasi Sudah Menjadi Bubur

  1. Jenny says:

    jangan takut untuk melakukan ‘action’ lagi! sekalipun nanti hasilnya gagal lagi. perlu terus berlatih “mangalompa di hudon” :)) ganbatte my dear sist…

    1. entasimanjuntak says:

      halo kak jen! iya kak, berharap ga takut lagi, tapi mungkin butuh waktu utk ga takut, hehe…’ganbatte’ aha tahe lapatanna kak?:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s