Transportasi Jakarta, bagaimana nasibnya?

Aku berlari kecil menyusuri jembatan busway…suara gemuruh yang cukup dahsyat memberi tanda bahwa air hujan akan tumpah dari langit…’aku harus sampai ke kost an sebelum hujan, atau aku akan mau tidak mau berbesar hati menghabiskan minimal 3 jam di jalanan yang macet total’, tegasku dalam hati. Tampak orang-orang juga sangat terburu-buru, lalu lintas mulai padat merayap memenuhi ruas-ruas jalan. Pemandangan keseharian Jakarta terutama di jam-jam puncak.

Sungguh ironis memang melihat orang-orang bergelantungan di bis-bis yang reot hampir tak layak pakai  melaju bersampingan dengan mobil-mobil mewah yang berpenumpang hanya 1 atau 2 orang. Miris! Mungkin rasa miris ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang kebiasaanya naik bis dan tidak pernah bermimpi untuk menjadi seperti orang-orang dalam kendaraan-kendaraan mewah itu! Pernah sekali seorang ibu setengah baya berdiri persis di mulut pintu bis karena ruang di dalam bis sudah penuh. Si ibu hanya berharap bisa sampai di tempat kerja tepat waktu. Laju bis yang agak lambat, karena menunggu penumpang lain yang sedang berlari ke arah bis, sempat membuat sewot seorang pengendara kendaraan mewah yang kebetulan berada persis di belakang bis. Supir kendaraan mewah itu pun mengklakson berulang-ulang agar bis melaju saja dan tidak menghiraukan para calon penumpang yang berlari menuju bis sambil melambaikan tangan (seolah berkata ‘tunggu…’). Pemandangan ini sudah biasa bagi banyak orang, bahkan terlalu biasa!

Harus diakui bahwa banyak pihak telah memberi perhatian khusus terhadap kondisi transportasi Jakarta ini, mulai dari para akademisi yang menyusun berbagai penelitian, termasuk para mahasiswa yang sedang menyusun thesis’, LSM dan NGO yang menawarkan berbagai kerangka penyelesaian masalah transportasi, sampai kepada pemerintah yang menyediakan berbagai kerangka pendanaan guna perbaikan kondisi transportasi Jakarta. Kesemuanya sepertinya berakhir menjadi dokumen-dokumen pasif yang tidak teraplikasi atau fisik yang terbangun tidak dengan kualitas yang standar. Irosnisnya, tidak ada yang mengetahui titik permasalahannya, atau mungkin ada yang tau tapi idenya tidak terfasilitasi dengan baik.

Ada 2 bentuk intervensi guna perbaikan kondisi transportasi. Pertama, dari segi supply yaitu dengan menambah ruas-ruas jalan baik jalan umum maupun jalan tol. Penambahan supply ini diharapkan bisa mengakomodasi peningkatan jumlah kendaraan yang menggunakan jalan raya sehingga kemacetan bisa teratasi. Kedua, dari sisi demand yaitu dengan memanage/mengurangi permintaan terhadap jalan (badan jalan) yang artinya tidak lain tidak bukan adalah pengurangan jumlah kendaraan pribadi. Peningkatan jumlah pengguna kendaraan pribadi notabene akan meningkatkan kebutuhan akan badan jalan. dan hal itu merupakan biang kemacetan.

Berbagai penelitian menegaskan bahwa Jakarta membutuhkan peningkatan panjang jaringan jalan, termasuk jalan tol. Dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain, Indonesia, khususnya Jakarta, tertinggal dalam hal panjang jaringan jalan tol. Menyingkapi hal ini, Pemerintah menyusun berbagai program pembangunan jalan tol. Namun, kebanyakan proyek pembangunan tersebut terbentur pada masalah pembebasan lahan, selain masalah pendanaan. Tidak sedikit jalan tol yang gagal dibangun karena sengketa lahan dengan masyarakat belum terselesaikan. Namun demikian beberapa ruas tol, seperti Jakarta Outer Ring Road (JORR) pembangunannya terus berjalan kendati banyak berbagai permasalahan muncul seiring pembangunan jalan tol tersebut. Berbagai pihak, terutama pengendara kendaraan pribadi telah memperoleh benefits dari dibangunnya JORR ini, tidak bisa dipungkiri. Selanjutnya, berbagai program lain terkait penambahan kapasitas jalan terus diupayakan oleh Pemerintah.

Terlepas dari peningkatan supply di atas, berbagai program terkait penurunan demand terhadap transportasi juga telah diupayakan, namun harus diakui masih dalam tingkat sangat rendah. Banyak program-program pengurangan jumlah kendaraan pribadi gagal dan tidak dapat diapliaksikan. Katakanlah program three in one (3 in 1), peningkatan pajak kendaraan, dan pengurangan subsidi bahan bakar kendaraan bermotor, pembatasan area  parkir, dan lain-lain. Kesemua program ini tidak juga berhasil mengatasi peningkatan jumlah kendaraan pribadi.

Selain masalah supply dan demand di atas, banyak pihak berkomentar bahwa ketidakdisiplinan angkot dan pedagang kaki lima merupakan salah satu biang kemacetan. Sehingga salah satu program yang perlu secara rutin dilakukan adalah pengamanan PKL oleh para satpol PP yang tidak segan-segan menangkap dan menghancurkan dagangan para PKL.

Belajar dari kompleksitas permasalahan transportasi Jakarta ini, harus diakui bahwa penyelesaikan permasalahan tersebut tidak segampang membalikkan telapang tangan. Dan saya dalam menuliskan post ini bukan bermaksud bertindak sebagai judge atau sebagai pemecah permasalahan, bukan juga sebagai seseorang yang berpijak pada kubu tertentu. Saya hanya ingin mengangkat ide dan pendapat pribadi.

Intervensi dalam bentuk peningkatan supply menurut saya bukan tidak perlu untuk dilakukan, namun intervensi itu harus diseimbangkan dengan intervensi demand. Peningkatan supply tanpa pengelolaan demand hanya akan menjadi pemicu kemacetan baru.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah bentuk-bentuk intervensi demand ini? Jawaban yang akan saya sampaikan adalah bentuk intervensi yang sudah sejak dahulu dilakukan tetapi tidak ‘diniatin’, seperti:

1)      Perbaikan kondisi moda transportasi publik (public transportation modes). Kondisi transportasi yang nyaman (convenient), aman (safe), cepat (fast), dan handal (reliable) dapat memotivasi orang untuk menggunakan transportasi publik walaupun tidak secara 100% terlaksana dengan baik mengingat keuntungan-keuntungan dari kendaraan pribadi tidak dapat disamakan dengan kendaraan umum; masalah prestise misalnya. Penerapan program ini memang tidak mudah mengingat transportasi umum di Indonesia sifatnya bukan dimonopoli oleh pemerintah. Berbagai pemain (actors) ikut serta sebagai pemilik dan operator transportasi umum. Mengenai isu ini, saya dan seorang temen pernah berdiskusi dan bertukar pikiran (dalam sebuah ajang yang tidak formal tentunya!). Teman saya berpendapat bahwa karena tidak monopoli, Pemerintah bisa saja menentukan SPM (standar pelayanan minimal) dari setiap moda transportasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan di lapangan. Masalah yang terjadi selama ini adalah bahwa SPM telah disusun, namun law enforcement di lapangan sangat rendah.

2)      Selain penggalakan penggunaan transportasi umum, program penggunaan kendaraan seperti sepeda misalnya perlu dimotivasi. Akhir-akhir ini, Pemerintah DKI dan beberapa pemda lain sedang menggalakkan program ‘bersepeda’. Sebagai pelaksanaan awal dari program ini, berbagai event bersepeda telah dilaksanakan. Program ini selain dapat menghemat BBM, juga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat selain tujuan utamanya untuk mengurangi kemacetan. Namun diakui bahwa program ini masih sangat lemah dalam pelaksanaannya karena hingga saat ini, pembangunan jalur khusus sepeda belum dimulai. Berbagai kontroversi sekitar isu ‘program bersepeda’ ini muncul ke permukaan yang berakhir pada penundaan program pelaksanaan program bersepeda secara komprehensif yang melibatkan semua pihak dan instansi pemerintah.

3)      Penerapan disinsentif bagi para pengguna kendaraan pribadi melalui berbagai skema, antara lain: penurunan subsidi bahan bakar khusus kendaraan pribadi, penertiban impor mobil, peningkatan pajak kendaraan bermotor, dan pembatasan/pengelolaan luas area parkir untuk setiap pusat-pusat kegiatan.

4)      Beberapa pendapat ekstrim juga telah banyak diutarakan seperti perbaikan penataan ruang Jakarta dan daerah sekitar yang melarang penggunaan kendaraan pada areal-areal pusat kegiatan tertentu.

Saya yakin masih banyak ide dan pendapat yang dapat disumbangkan dalam rangka perbaikan transportasi Jakarta ini. Namun, jika tidak ada political will dari Pemerintah dan kerjasama dari stakeholders lain, kita harus dengan lapang dada selalu menerima kondisi yang-minta-ampun-sembrautnya transportasi Jakarta.

Bentuk-bentuk intervensi yang saya uraikan diatas seyogianya tidak dilaksanakan secara parsial, namun secara menyeluruh. Peningkatan pajak kendaraan dan pembatasan area parkir misalnya harus dibarengi dengan perbaikan kondisi transportasi umum, dengan harapan bahwa penggunakan kendaraan pribadi mau dengan berbesar hati menggunakan kendaraan umum. Implementasi kebijakan dan strategies yang setengah-setengah hanya akan membuat masalah transportasi Jakarta semakin runyam.

Transportasi Jakarta, bagaimana nasibnya?

8 thoughts on “Transportasi Jakarta, bagaimana nasibnya?

  1. laura says:

    Kayaknya pemerintah kita akan mengeluarkan rule mengenai subsidi BBM. bagi kendaraan pribadi tidak akan ada subsidi, sebenarnya ide pemerintah ini sudah bagus, karena dengan mengeluarkan peraturan tersebut permintaan (demand) akan kendaraan akan menurun..dan masyarakat akan lebih memilih memakai kendaraan roda 2…

    tapi tetap aja bu dengan banyaknya permintaan akan kend roda dua sama saja tidak akan mengurangi kemacetan,,malah tingkat kecelakaan akan semakin tinggi…

    1. entasimanjuntak says:

      iya, pengurangan subsidi bbm terhadap kendaraan pribadi memang bisa jadi salah satu titik kunci, tapi kalo hanya subsidi bbm yang diinterfensi tanpa memperbaiki transportasi umum, kemungkinan besar pengguna kendaraan pribadi akan tetap pake kendaraannya…dilema memang…masalah transportasi memang sifatnya sistemic hasian, kebijakan yang satu harus disupport sama kebijakan yang lain biar jalan..:) makasi ya laura udah berkunjung…:)

  2. Uwiy says:

    hii enta..
    bagus dehh tulisannya
    informatif banget..
    klu bisa tulisanya ditambah tentang program2 pemerintah u/ menyediakan transportasi khusus perempuan.. kayanya lebih menarik juga

    thx

    1. entasimanjuntak says:

      Hi Uwiy..makasih udah berkunjung..:)
      dikaitkan dengan gender yaa..hmm…kyknya topik yang menarik…:)
      nanti aku akan coba garap uwiy…tapi uwiy nulis juga tentang itu gimana trus tar kita saling tuker info (?)…:)
      again thanks for the visit..:)

  3. Jessica Waworuntu says:

    Post yang betul2 menambah wawasan dan sangat informative!
    Thanx Enta! Gua gak kuliah Town Planning, jadi gak tau apa2
    Gua baru tau ternyata mengatasi kemacetan Jakarta itu masalah yang super complex dan banyak kendalanya.
    Gua belajar gak banyak complain2 deh kalo Jakarta lagi macet total

    1. entasimanjuntak says:

      Makasih wawo udah berkunjung ke blog ku….maap kalo tulisannya terlalu susah dicerna…pemakaian kata2 nya kurang simple…maklum lagi belajar menulis…hehe…
      haha….complain itu wajar kok wawo…jadi gpp complain juga…cuman ya kita perlu doain biar pemerintah lebih bijaksana untuk mengatasi persoalan transportasi jakarta, dan juga kalo tar wawo driving di jkt tidak ikutin para pengendara kendaraan yang suka ignorant sama peraturan lalu lintas. tapi aku yakin wawo pengendara yang disiplin kok…:)
      again thanks for the visit..:):)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s