Perjalanan Medan-Balige yang melelahkan sekaligus menyenangkan

“Thanks God”, teriakku dalam hati ketika roda pesawat menyentuh landasan bandara Polonia. Entahlah kenapa hingga sekarang selalu ada rasa takut naik pesawat khususnya saat taking off dan landing…”kayak ga orang Kristen aja ga ada iman sama Tuhan. Kalau pun kecelakaan kan berarti cepat masuk surga…” demikian sering aku menasihati diri sendiri. Seperti biasa penumpang pesawat udah pada heboh walaupun pesawat belum berhenti dan merapat rapi di posisinya, sedangkan aku sendiri memilih untuk menunggu hingga hiruk-pikuk dalam pesawat berkurang dan orang-orang pada keluar. “Buat apa buru-buru, toh entar ke tempat bagasi juga” aku mengakhiri obrolan dengan diri sendiri dan melangkah menuju pintu keluar pesawat.

Pengambilan bagasi pun ternyata udah langsung dilaksanakan oleh petugas bandara, lebih cepat dari yang kuduga. Pengambilan bagasi terkesan ‘barbar’ secara sepertinya orang-orang berkerumun tidak teratur menunggu bagasi masing-masing sementara bagasi yang tidak bertuan tercampak di lantai. Untung diantara bagasi yang tidak bertuan itu tidak kutemukan tas ku…akhirnya tasku pun menunjukkan batang hidung nya setelah aku menunggu sekitar 15 menitan.

Aku pake acara tertahan oleh petugas pemeriksa bagasi karena nomor bagasi dan nomor tasku ga sama. Setelah berargumen dengan petugas tersebut selama kurang lebih 10 menit, petugas itu pun menyuruh aku membuka tas ku. Dia memperhatikan apa aku tau kombinasi nomor untuk membuka tas tersebut. Tidak pelak lagi, aku bisa membukanya. Dengan pandangan merasa bersalah dia akhirnya mempersilahkan aku membawa tasku.

Celingak celinguk mendekati pintu keluar, aku menanyakan seseorang yang tampaknya seorang petugas bandara. “Permisi pak, ada ga ya taxi resmi di sini?” tanyaku. Pasti tampangku saat itu terlihat sedikit kuatir oleh para calo-calo yang sering menawarkan taxi nya dengan nada memaksa dan tidak jarang menarik tas kita agar naik taxi nya. “Oh ada, ibu keluar aja, trus ibu belok kanan atau kiri tar ada tulisan taxi bandara Polonia, itu resmi kok” sahutnya ramah. Setelah berterima kasih, aku pun melaksanakan persis seperti sarannya. Aku memilih belok kanan dan memesan taxi. “Bintang Tapanuli” kataku. “Oh, KBT, lima puluh ribu rupiah” sahut petugas. Seusai pembayaran, taxi pun melaju menuju Jalan Sisingamangaraja.

“Balige” sahutku ke petugas loket KBT. “Empat puluh ribu” jawabnya. Hanya 5 menit menunggu, kami pun melaju menuju daerah Toba. Armada KBT tersebut adalah mobil berpenumpang 12 orang termasuk supir. Aku duduk di kursi paling belakang bersama seorang ibu dan gadis. “Kurang lebih 5 jam perjalanan, pfuh! Gimana ya agar perjalanan ini menyenangkan?” tanyaku dalam hati. Aku sadar banget saat itu bahwa sesuatu itu bisa menjadi hal yang menyenangkan dan menyebalkan, itu semua tergantung bagaimana kita memandang dan mengisi saat tersebut. Aku pun mulai memulai pembicaraan dengan cewek di sebelah kanan ku dan seorang ibu di sebelah kiriku. Ternyata cewek tersebut masih kuliah di UISU tahun kedua, ambil jurusan Bahasa Indonesia, sedangkan si ibu sebenarnya tinggal di Medan tapi ada urusan ke Porsea. Pembicaraan pun mengalir dan aku berhasil membuang rasa kebosanan selama beberapa jam.

Dalam mobil tersebut sama sekali tidak ada keheningan. Bapak supir tampaknya suka dengerin music juga. Alhasil, selama perjalanan kendaraan pun penuh dengan suara music dan lagu-lagu non stop, mulai dari album pop Batak, album barat kompilasi, album Ebit G Ade, album Westlife, album Boyzone, album Celine Dion, dan ulang lagi dari album pop Batak. Cewek di sebelah kananku tampaknya hafal dengan semua lagu-lagu itu. Ga ada lagu yang dia tidak hafal. Sambil menelusuri pemandangan di luar, dia pun bernyanyi kecil mengikuti lagu. Sedangkan ibu di sebelah kiriku memilih untuk tidur hampir sepanjang perjalanan, tampaknya dia capek sekali. Tapi waktu album Ebit G ade diputar, dia ga tahan untuk nyanyi, dan beliau pun ikut bernyanyi. “Tidak salah lagi, hampir semua orang Batak senang lagu dan music” demikian aku bergumam dalam hati sambil tersenyum simpul. “I am one of them!”

Sepanjang perjalanan, hanya 5 menit aku memejamkan mata. Aku menikmati setiap detik saat itu. Pikiranku pun terkadang melompat dari satu topic ke topic berikutnya. Awalnya keingat sama beberapa plot keseharian di Sydney yang aku tinggalkan baru 3 hari yang lalu. Kemudian pikiranku melompat ke suasana kampung halamanku, dan lalu melompat lagi ke beberapa teman yang cukup dekat dengan ku, demikian bolak balik. Bosan dengan pikiranku, pandanganku pun kulempar ke arah luar jendela mobil. Pemandangan di luar pun tidak membosankan, mulai dari suasana kota, perkebunan karet dan kelapa sawit, kota-kota kecil, pegunungan, semak-semak, hutan, dan danau. Sesekali pembicaraan dengan cewek sebelah kiriku dan ibu sebelah kanan ku pun memecah konsentrasiku menikmati suasana luar.

Melewati Rantau Parapat, kota dimana pemandangan Danau Toba mencapai klimaks keindahannya, udara sejuk pun terasa terhempas di wajahku. “Sejuk!!” gumamku dalam hati sambil memejamkan mata. “I am home”. Aroma daun hijau, lembab hutan, dan air jernih bercampur dengan udara sekitar membuat udaranya tidak hanya sejuk, tapi sangat alami. Ketika udara memasuki lobang hidung, kadar oksigen yang tinggi sangat menyegarkan.

Kurang lebih 6 jam perjalanan, aku akhirnya sampai di Balige; dijemput oleh nyokap. Yay!! Balige ku oh Balige ku…

Perjalanan Medan-Balige yang melelahkan sekaligus menyenangkan

6 thoughts on “Perjalanan Medan-Balige yang melelahkan sekaligus menyenangkan

  1. martua says:

    Oh..enak nya pulang kampung …jadi pengen…..btw….please enjoy your vacation…salam buat keluarga…
    PS ; sedikit ralat, rantau parapat???i thinks u mean in here is parapat..don’t u???

    1. entasimanjuntak says:

      makasih martua…:)
      enak donks….:) makanya pulang lah…
      iya, parapat itu kan rantau parapat bukan…harusnya rantau prapat…bukan ‘parapat’…maap, akan segera di ralat…:)

  2. Renta says:

    Hai,

    Wah…akhirnya dirimu nyampe juga diBelgia….senengnya…
    Aku sedih ta…gak pulang dah 5 taon…kangen,rindu,masihol campur jadi satu…(sama aja kan???)…
    Ceritain ya tar gimana kota tercinta kita sekarang..
    Happy holiday ya non…Gbu

    1. entasimanjuntak says:

      hahah….belgia bahasa keren nya balige yah….:)
      o ya? wahhhh aku mengerti rasa siholmu say..makanya besok2 pulang lah..balige selalu merindukanmu….:)
      thank you….merry xmas yah…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s