Intelektualitas VS Moralitas

Mungkin judul di atas tampak controversial. Kok intelektualitas dan moral jadi dua hal yang bertolak belakang? Bukannya harusnya intelektualitas sejalan degan moral? Harusnya judulnya intelektualitas ‘CS’ Moral dong, bukan Intelektualitas ‘VS’ Moral. Emang ada bedanya?

Barusan saya menerima kabar bahwa salah seorang teman kantor saya keterima beasiswa S3 ke Jepang. Bahagia sekali rasanya bahwa semakin banyak orang Indonesia yang melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Hal itu berarti bahwa akan semakin banyak yang berpendidikan tinggi dan berkapasitas tinggi dan maju yang akan pulang untuk membangun Indonesia kelak. Well, setidaknya itu jadi harapan kita semua. Walaupun sebenarnya lulusan dalam negeri tidak kalah bagusnya dari lulusan luar negeri.

Namun kemudian, saya berhenti sejenak, memikirkan harapan tersebut lebih dalam dalam benak saya. Kemudian saya bertanya kepada diri sendiri, emang kalau semakin banyak yang sekolah (beasiswa) ke luar negeri, itu berarti Indonesia semakin maju? Hm….mungkin ya mungkin juga tidak. Bukannya emang sedari dahulu kala Indonesia telah mengirimkan laskar-laskarnya untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Jujur saja, emang duit darimana untuk mengirim orang bersekolah ke luar negeri kalau bukan dari hutang luar negeri. Hutang luar negeri ini menjadi salah satu faktor krisis ekonomi yang melanda Indonesia sekitar 10 tahun yang lalu di saat semua hutang luar negeri jatuh tempo sementara harga minyak dunia turun drastis yang pada akhirnya menyebabkan penerimaan Negara menipis sementara hutang harus dibayar.

Banyak yang pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan study, tapi banyak juga yang tidak pulang. Well, pulang atau tidak itu tidak menjadi masalah, toh kita juga bisa kok berkontribusi ke Indonesia darimanapun posisi kita (demikian alasan beberapa orang yang memutuskan untuk tidak pulang). Saya tidak tertarik untuk membahas persoalan pulang atau tidak, itu benar-benar bukan pokok permasalahan di post ini. Yang menjadi sorotan saya adalah kenapa semakin banyak orang Indonesia yang berpendidikan sangat tinggi tapi tidak berdampak cukup positive terhadap kondisi Indonesia? Apa yang salah?

Saya curiga (ini cuman kecurigaan saya saja mungkin) bahwa semakin orang berpendidikan semakin tidak bermoral dia! Kenapa saya mengatakan demikian? Pendidikan sekarang hanya mendidik orang untuk memikirkan diri sendiri; ‘bagaimana agar saya mendapatkan lebih banyak dan lebih baik daripada orang lain’. Apakah pendidikan sekarang masih mengenal mata pelajaran moral atau etika? Penataran P4 saja sudah dihapuskan karena tidak dianggap tidak sesuai dengan kemajuan zaman!! Atau pendidikan kelas berapa di SD, SMP, atau SMA yang mengajarkan etika, tenggang rasa, dan tolong menolong? Bukankah matematika, kimia, fisika, akuntansi, bisnis, dan teknik lebih elit daripada pelajaran etika dan moral?

Sungguh ironis, pendidikan di keluarga dan sekolah tidak lagi mengajarkan seseorang menjadi orang yang ‘baik, bijaksana, berbudi luhur, tenggang rasa, dan suka menolong’ tapi mengajarkan bagaimana supaya ‘dapat kerja bagus dan bergaji tinggi’!! jika setiap orang berpikiran demikian, bukannya system pendidikan itu sebenarnya telah gagal? Tidak heran kalau persaingan tidak sehat terjadi dimana-mana yang melibatkan mereka yang mempunyai pendidikan sangat tinggi!!

Jika demikian hanya ada 2 pilihan: 1)  hapuskan saja system pendidikan jika pada akhirnya pendidikan itu menciptakan seseorang berani makan sesamanya (kanibal)!! 2) ubah sistem pendidikan sekarang menjadi sistem yang mendidik orang untuk tidak saling makan sesamanya!!

Intelektualitas VS Moralitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s