Lingkup diskusi: (kayak karya ilmiah saja!!)

Sebelum aku mulai tulisan ini, perlu aku tekankan beberapa hal untuk digarisbawahi: pertama: tulisan ini hanya bermaksud untuk menggambarkan, bukan menjudge, sama sekali bukan! Kedua: ini tulisan adalah tulisan pertama berbahasa Indonesia di blog ini karena aku bakalan berbicara mengenai pengalaman orang-orang Indonesia, khususnya yang sekolah di luar negeri (baca: western countries). Ketiga: tulisan ini bukan didasarkan pada analisis yang detail (baca: belat belit) dan ilmiah (melalui experiment tertentu), tetapi hanya berdasarkan observasi, dari uneg-uneg orang, dan dari pengalaman sendiri (benar-benar tidak ilmiah bukan??). Keempat: issue yang diangkat di tulisan ini bukan saja dialami oleh orang-orang Indonesia, tapi juga orang-orang asia lain. Tapi aku akan menggunakan orang-orang Indonesia sebagai contoh.

Kenapa berteman dengan orang bule lebih menyenangkan dari berteman dengan orang dari negeri sendiri ketika kita berada di luar negeri?

Ada banyak sekali alasannya kenapa orang bule itu jadi teman yang menyenangkan bagi orang indonesia, aku list beberapa uneg-uneg orang: pertama: alasan yang sangat sering adalah bahwa orang bule itu ga rese! Tanggapan ini mungkin ada benernya. Orang bule pada umumnya sangat menghargai apapun yang dikerjakan orang lain. Tingkat apresiasi terhadap sesuatu tinggi. (kalo mau baca, aku mem-post artikel mengenai hal ini, silahkan klik disini). Aku ingat ada seorang teman yang bilang ‘kalo aku dandan dikit (baca: busana yang biasanya digunakan bule), pasti ada orang indo yang protes, ‘elu gaya amat’, atau melihat dengan sinis tanpa mengeluarkan kata sedikitpun. Beda dengan orang bule yang biasanya dengan tanggapan ‘you look nice today’ dengan senyum yang (sepertinya sih) tulus. Contoh lainnya, waktu pertama kali aku dengan beberapa teman sampai di Sydney, di faculty kita ada semacam pertemuan untuk mahasiswa/i baru. Waktu itu aku kenalan sama seorang anak Indonesia. Biasalah, anak baru senang berkenalan! Tapi waktu dia tau aku anak beasiswa dan dia anak private, dia langsung balik kanan ninggalin aku sama salah seorang anak beasiswa lain. Kalau kuterjemahkan, bahasa tubuhnya bilang ‘oh, anak scholarship toh, brarti ga berduit donk!’ Kejadian ini terjadi beberapa kali kalau kita (aku sama teman2 scholarship lainnya) kenalan sama orang Indonesia yang ‘private’. Respon ini kalo dibandingkan dengan responnya orang bule, sebaik orang bule tau kita anak beasiswa, mereka bakalan bilang ‘wow, you must be excellent’! Liat bedanya? Jadi mungkin (highlight mungkin, orang Indonesia emang banyak yang rese, walau ga smua). Kedua: berteman dengan bule menunjukkan bahwa seseorang punya kemampuan bahasa yang baik. Ya ga mungkinlah ngomong sama bule pake bahasa Indonesia, kecuali kalo bulenya emang udah keindo-indonesiaan (baca: mengerti bahasan Indonesia). Pelajar-pelajar Indonesia yang sekolah di luar negeri punya impian bisa berbahasa lancar menggunakan bahasa yang bukan bahasan Indonesia. Bisa berbahasa Inggris, Prancis, and Belanda misalnya, to some extent, dapat meningkatkan kredit seseorang. Ketiga: kebalikan dari alasan sebelumnya adalah untuk meningkatkan kemampuan bahasa non Indonesia. Banyak pelajar Indonesia menghindari perkumpulan-perkumpulan pelajar-pelajar Indonesia dan memilih untuk bergabung dengan unit-unit yang banyak orang bulenya. Hal ini terjadi pada umumnya di awal-awal kuliah, pada saat perasaan excited yang membanjir dan harapan-harapan yang masih kuat untuk memperluas pergaulan dengan orang-orang non Indonesia. Kecenderungannya, pada semester-semester berikutnya, ketika menghadapi banyak kesulitan atau kesepian atau mungkin kebosanan, mereka akan balik ke perkumpulan-perkumpulan Indonesia. Keempat: berteman dengan bule kesannya ‘keren’! Dengan meng-upload foto-foto bersama orang bule atau at least suasana western countries, sebanyak beberapa album di facebook, to some extent, menimbulkan rasa kebanggaan tersendiri. Sebaliknya facebook’ers juga umumnya sangat notice dengan foto-foto ini. Kelima: memperbanyak teman dan meningkatkan pergaulan. Pernah seorang teman nyeletuk ‘masa udah di XXX (baca: di luar negeri) tetap gabungnya sama orang Indonesia, gaul doooong!!’ Hal ini ada benernya juga. Setelah lulus dari kuliah kan memang bisa jadi alasan untuk email-email an, trus tetap keep in touch, siapa tau ntar-ntar ada kesempatan travelling atau kuliah lagi, mereka bisa jadi teman untuk hang-out bukan? Pergaulan di sini juga bisa berarti ‘share informasi’. Kita bisa kasi tau Indonesia itu kayak apa dan mereka cerita Negara mereka kayak apa, interesting bukan? Keenam, ada beberapa orang yang lebih merasa ‘klik’ sama orang bule. Hal ini bisa saja karena mereka punya lifestyle yang mirip dengan orang bule, jadi nyambungnya sama orang bule lah! Bisa juga karena mereka punya saudara orang bule, tante nya misalnya, jadi bergaul sama orang bule udah part of their life. Di luar alasan ini, pasti masih banyak alasan-alasan lain. Maap kalo ga termasuk dalam list.

Keuntungan Berteman dengan Orang Indonesia

Mungkin kesannya negative kalo aku tuliskan ‘keuntungan’ di sini. Kesannya, pertemanan itu harus ada untung ruginya. Maksudku bukan seperti itu. Keuntungan di sini maksudnya ‘enaknya’. Kita udah list alasan-alasan kenapa berteman dengan bule bukan, sekarang aku mau list alasan-alasan kenapa berteman dengan orang Indonesia itu perlu dilestarikan. Pertama, culture memang sangat kuat. Cross-culture bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan tetapi bisa jadi sesuatu yang sangat melelahkan. Bayangkan saja kalau kita bergaul dengan orang lain yang culture nya benar-benar beda dengan kita, bisa banyak terjadi kesalahpahaman. Kalau berteman dengan orang Indonesia, ga usah capek-capek menyesuaikan diri, akan jauh lebih gampang adjustnya. Bisa dibilang, ga usah dibilang juga pasti orang Indonesia ngerti. Selain itu, pada umumnya orang bule tidak sesensitif orang Indonesia. Biasanya kalau tidak diomongin secara terbuka (baca: dilabrak), orang bule ga bakalan ngerti…cuapek deh!! Kedua, orang Indonesia itu pada umumnya tidak individualistis, at least tidak seindividualistis orang bule. Ga ada istilah traktir-traktiran di bule. Jangan harap deh!! Elu bayar, gue juga bayar!! Ini memang part of the culture dan dibeberapa western countries, traktiran-traktiran biasa kok!! Selain itu, kalau kamu kesusahan, banyak untungnya pergi ke orang Indonesia, biasanya mereka helpful dan siap untuk membantu. Ketiga, menjaga network kalau nanti balik Indonesia. Indah bukan sesama orang Indonesia bertemu di luar negeri, trus setelah balik Indonesia bisa lebih sering ketemu dan makin akrab, hang-out bareng, network dalam hal bisnis, syukur-syukur bisa jadi teman deket trus get married, qiqiqiqi,,,. Keempat, kamu bisa tambahin sendiri.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, pergaulan itu indah. Jika pergaulan itu ‘genuine’, semua pergaulan akan indah. Tidak penting bergaul sama siapa, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bergaul. Pergaulan yang sifatnya ‘self-centered’ atau ‘untuk keuntungan diri sendiri’ saja bakalan ga jadi suatu pergaulan yang indah.